nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Target Lifting 1 Juta Barel/Hari, RI Punya 10 Wilayah Migas Raksasa

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 19 Maret 2020 20:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 19 320 2186082 target-lifting-1-juta-barel-hari-ri-punya-10-wilayah-migas-raksasa-QVSaMVO7x6.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Indonesia berpotensi mengembalikan produksi minyak ke level 1 jutaan barel per hari (BOPD) melalui kegiatan eksplorasi yang masif kendati saat ini produksi masih di bawah 725 ribu BOPD karena masih banyaknya potensi cadangan.

Dari 128 cekungan (basins), baru 54 cekungan yang sudah melalui eksplorasi dan eksploitasi dengan reserves 3,2 billion barrel oil dan gas 100 TCF.

“Masih ada 70-an cekungan yang belum dikelola. Penemuan baru akan mengubah sumber daya alam menjadi cadangan bertambah di kemudian hari. Kalau cadangan tidak ditemukan kita akan mengalami penurunan sumber daya migas cukup siginifikan dibandingkan kebutuhannya,” ujar Ketua Komite Tetap Energi Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H Ganinduto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Baca Juga: Presiden Jokowi: Manfaatkan Momentum Penurunan Harga Minyak ke Perekonomian RI

Berdasarkan data SKK Migas, saat ini terdapat 10 wilayah yang berpotensi memiliki cadangan cukup besar (giant discovery) antara lain di Sumatera Utara (Mesozoic Play), Sumatera Tengah (Basin Center), Sumatera Selatan (Fractured Basement Play), Northern Papua (Plio-Pleistocene & Miocene Sandtone Play), Bird Body Papua (Jurassic Sandstone Play), dan Warim Papua.

“KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) harus melakukan kegiatan eksplorasi demi menambah cadangan dan mengganti minyak dan gas yang telah diproduksikan. Contohnya PT Pertamina EP yang konsisten melakukan eksplorasi di tengah penurunan harga minyak sejak beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Presiden Jokowi Minta Dikalkulasi Dampaknya ke Perekonomian

Agar kegiatan eksplorasi makin masif, Firlie berharap pemerintah dan SKK Migas memberikan insentif kepada KKKS. Salah satunya insentif fiskal berupa pembebasan pajak saat eksplorasi. Saat ini kegiatan eksplorasi masih terkena pajak.

"Itu mungkin kita harus bicarakan dengan Kementerian Keuangan untuk membebaskan dalam masa eksplorasi. Setelah produksi ada income, baru kena pajak yang sesuai aturan negara,” katanya.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini