JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengaku kesulitan untuk mengejar target lifting migas pada tahun ini. Mengingat, pemerintah dihadapkan berbagai macam permasalahan global dari mulai virus corona hingga turunnya harga minyak dunia.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, produksi minyak pada akhir tahun diperkirakan hanya 725 ribu barel per hari (bph), turun dari target dalam program Filling The Gap (FTG) 735 ribu bph. Sedangkan untuk produksi gas bumi diperkirakan turun dari 5.959 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) ke 5.727 MMSCFD.
Baca Juga: Kesepakatan OPEC Pangkas Produksi Tak Buat Harga Minyak Naik
“Ke depan, lifting migas akan semakin tertekan diakibatkan covid-19 dan rendahnya harga minyak. Sangat berat mencapai lifting migas sesuai target APBN 2020," ujarnya dalam telekonferensi, Kamis (16/4/2020).
Apalagi lanjut Dwi, target yang diberikan dalam APBN juga dinilai terlalu tinggi. Padahal kemampuan teknis di lapangan yang disepakati antara kontraktor dengan SKK Migas di bawah dari angka tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lagi, WTI Dibanderol USD20,1/Barel
"Target lifting yang diberikan, lebih tinggi dari kemampuan teknis lapangan-lapangan migas yang disepakati antara SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) saat pembahasan WP&B (rencana kerja) 2020," kata Dwi
Apalagi lanjut Dwi, penyebaran virus corona yang makin meluas membuat bakal semakin mempersulit. Apalagi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan konsumsi minyak mentah juga anjlok.