Share

Surplus Neraca Perdagangan Maret 2020 Wajib Dipertahankan

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 17 April 2020 22:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 17 320 2200975 surplus-neraca-perdagangan-maret-2020-wajib-dipertahankan-aOeSgl4Jfa.jpg Ekspor-Impor di Pelabuhan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus USD743,4 juta dengan nilai ekspor USD14,09 miliar dan impor USD13,35 miliar.

Di mana komposisi neraca perdagangan dari sektor non-migas masih mengalami surplus USD1,7 miliar, sedangkan dari sektor migas mengalami defisit USD932 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan selama Januari-Maret 2020 surplus USD2,62 miliar dengan nilai ekspor sebesar USD41,79 miliar dan impor USD39,17 miliar.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai, kenaikaan dari sisi volume ini, didominasi produk olahan. Artinya sangat bagus untuk konsistensi surplus untuk neraca dagang ke depan yang jelas pada periode ini merupakan sebuah prestasi.

“Sementara beberapa periode sebelumnya kita melihat berita tentang neraca defisit perdagangan dan ini sebuah momentum harus kita pertahankan,” kata Fithra, dalam keterangannya, Jumat (17/4/2020).

Baca Juga: Cerita Sri Mulyani soal Optimisme Neraca Perdagangan Jadi Buruk akibat Covid-19

Apalagi tren perdagangan yang cukup baik seperti ekspor besi baja, mesin peralatan mekanik dan kertas karton sebenarnya adalah produk – produk olahan yang nilai tambahnya tinggi.

“Kita tidak tergantung dari komoditas yang nilai tambahnya rendah dan saya rasa momentum ini yang harus dimanfaatkan,” katanya.

Dia melihat sepanjang Januari sampai Maret surplus neraca perdagangan dipicu oleh kinerja ekspor dan ini kalau secara histori, jarang terjadi. Biasanya kalau neraca perdagangan terjadi surplus itu, maka kinerja impor turun dalam dibanding eksport.

Namun sepanjang kuartal I tahun ini, melihat kinerja ekspor tumbuh cukup baik dan mencetak kurs neraca perdagangan terutama di bulan Februari dan Maret. Dan juga menggembirakan, surplus perdagangan ini didominasi oleh ekspor non migas, dimana yang lebih banyak diekspor besi baja dan produk olahan. Dan melihat bahwa secara nilai tambah eksport Indonesia bergerak pada nilai tambahnya tinggi.

“Saya masih melihat kecenderungan surplus ini baik di bulan April atau Mei karena memang ada penurunan import barang baku, industri kita saat ini melambat, maka permintaan akan bahan baku, juga melambat. Itu sebetulnya buka berita bagus kalau kita lihat ini bisa menganggu ekspor,” kata Fithra.

Pemerintah pasti sudah cukup antisipatif dengan melakukan relaksasi kebutuhan import, terutama import bahan baku kebutuhan industri yang memang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi kemudian diimpor lagi.

Jadi di sisi lain dia melihat China dari negara tujuan ekspor masih mendominan dan kecenderungan permintaannya ekspornya meningkat. Hal ini memperlihatkan bahwa China dalam proses recovery.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini