Defisit APBN 2021 Dipatok 4,17%, Sri Mulyani Janji Lebih Hati-Hati Tarik Utang

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 13 Mei 2020 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 13 320 2213256 defisit-apbn-2021-dipatok-4-17-sri-mulyani-janji-lebih-hati-hati-tarik-utang-Web2aPDCzy.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 telah resmi disahkan menjadi Undang-Undang. Dalam RAPBN 2021, defisit APBN ditargetkan di kisaran 3,21% hingga 4,17% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan lebih hati-hati dalam menarik utang di tahun depan. Adapun rasio utang berada di kisaran 36,67 sampai 37,97% terhadap PDB.

Baca juga: Imbas Covid-19, Sri Mulyani Sesuaikan Kerangka Ekonomi 2021

Menurut Sri Mulyani, pembiayaan tahun depan akan dilakukan secara terukur dan berhati-hati. Pemerintah akan terus menjaga sumber-sumber pembiayaan yang berkelanjutan (sustainable) agar rasio utang terjaga dalam batas aman.

"Besaran pembiayaan defisit di atas 3% ini mengacu kepada Perppu No. 1/2020, agar proses pemulihan berjalan secara bertahap dan tidak mengalami hard landing yang berpotensi memberikan guncangan bagi perekonomian," ujarnya dalam sidang paripurna dikutip Rabu (13/5/2020).

Baca juga: Penanganan Dampak Covid-19 Akan Masuk di RAPBN 2021

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut, pemerintah akan menbcari alternatif pembiayaan lain. Misalnya adalah dengan mendorong lebih banyak pembiayaan lewat skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)

"Pemerintah terus mendorong peran swasta dalam pembiayaan pembangunan melalui kerangka Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), termasuk mendorong penerbitan instrumen pembiayaan kreatif lainnya," jelas Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, kebijakan fiskal menjadi instrumen yang sangat strategis dan vital dalam proses pemulihan ekonomi tahun depan. Oleh karena itu, pada tahun depan, kebijakan sisi pembiayaan tahun 2021 diarahkan untuk mendukung countercyclical stabilisasi ekonomi.

Berbagai langkah dilakukan, pertama peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM, UMI, dan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kedua, pendalaman pasar, efisiensi cost of borrowing, dan efektivitas quasi fiskal untuk akselerasi daya saing dan peningkatan ekspor.

"Ketiga, dukungan restrukturisasi BUMN, penguatan BLU dan Sovereign Wealth Fund untuk mendukung pemulihan ekonomi dan akselerasi pembangunan," kata Sri Mulyani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini