Kualitas BBM di Indonesia Rendah, Harganya Kok Tidak Turun?

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 22 Mei 2020 18:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 22 320 2218196 kualitas-bbm-di-indonesia-rendah-harganya-kok-tidak-turun-vFiA85koj4.jpg Harga BBM di Indonesia Diminta Turun. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) diminta untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Alasannya menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang saat ini sedang anjlok.

Apalagi, harga minyak WTI pernah di level minus, sementara minyak jenis Brent yang erat ikatannya dengan harga minyak Indonesia (ICP) berada di level USD27 per barel.

Kendati demikian, mengapa harga BBM di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia? Padahal, kualitas BBM di Indonesia masih jauh lebih rendah, terutama untuk bahan bakar jenis Premium.

Baca Juga: Seberapa Penting Subsidi BBM di Tengah Pandemi Covid-19?

Ketua Komite Penghapusan Bensi Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, Indonesia gagal memproduksi dan memasarkan BBM dengan harga yang lebih murah. Salah satu faktornya, karena tidak adanya kemauan politik (political will).

"Karena tiadanya kemauan politik dari pemerintah yang diduga akibat lobby kuat dari para oil traders yang bermaksud memaksakan atau melanggengkan untuk mengimpor BBM kotor (dirty fuels)," jelas Ahmad dalam sebuah secara daring, Jumat (22/5/2020).

Baca Juga: Mendag: Distribusi dan Stok BBM di Jabar Aman

Stok BBM kotor ini melimpah mengingat banyak negara telah meninggalkan BBM kotor dan beralih ke BBM yang lebih bersih. Yakni BBM yang memenuhi syarat untuk digunakan pada kendaraan berstandar Euro 4, Euro 5, dan Euro 6.

"Tiadanya political will dan aksi nyata untuk meng-upgrade BBM berkualitas tinggi dengan harga yang lebih murah sebagaimana yang terjadi di Malaysia, Australia, dan Amerika Serikat adalah pelanggaran konstitusi UUD 1945 pasal 33," jelasnya.

Dalam case study Oktober 2019 hingga April 2020, kebijakan harga BBM yang dijalankan telah menyebabkan surplus produsen sebesar Rp127,6 triliun.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini