Share

Tantangan Bos Migas di Tengah Pandemi Covid-19

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 05 Juni 2020 09:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 05 320 2224884 tantangan-bos-migas-di-tengah-pandemi-covid-19-YxneY81u5A.jpg Tantangan Bos Migas (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Industri minyak dan gas bumi (migas) global dinilai memerlukan kepemimpinan yang mumpuni dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastiaan akibat pandemi virus corona serta anjloknya harga minyak dunia.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiranto mengatakan, pimpinan di hulu migas, termasuk di Pertamina, tidak hanya harus mengerti soal teknis, tapi juga kemampuan adaptif dalam suatu kasus. Tidak hanya mementingkan sektor saja, tapi harus melihat lebih luas lagi.

“Butuh sosok yang bisa melihat jangka panjang. Lebih makro akan lebih survive. Jadi harus mempunyai kemampuan prediksi ke depan,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (5/6/2020).

Baca Juga: New Normal Dimulai, Ini yang Harus Dilakukan Pekerja saat ke Kantor hingga Pulang 

Menurut Julius, Pertamina memiliki banyak anak usahanya, yang sebagian pimpinannya akan memasuki masa pensiun. Namun usia pensiun tidak berarti tidak produktif lagi. “Kita harusnya trust pada next generation. Itu yang diperlukan ke depan. Yang masuk masa pensiun itu tetap dibutuhkan, khususnya dalam memberikan saran-saran,” kata Julius.

Dia menambahkan Pertamina merupakan perusahaan besar dan BUMN. Semakin tinggi posisi, CEO atau direksi harus punya view yang lebih luas, tidak hanya teknis saja. Karena mau tidak mau berhubungan dengan nonteknis.

“Idealisme yang kuat di teknis bisa terkalahkan dengan soal lain. Untuk itu harus berani. Pertamina itu plat merah, kalau terlalu idealis, bisa mati juga. Jadi leader di Pertamina tidak hanya harus pintar, tapi pintar-pintar,” kata Julius.

Baca Juga: Ciptakan Tempat Kerja Sehat di Era New Normal 

Apalagi, PT Pertamina (Persero) saat ini memegang peranan penting di sektor hulu migas nasional. Apalagi pada 2021 akan mengelola Blok Rokan, kontributor produksi nomor dua terbesar minyak nasional setelah Blok Cepu.

Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menambahkan Pertamina membutuhkan sosok yang unik, tidak hanya pintar tapi juga mengerti. Salah satu standar utama adalah kompetensi yang mumpuni dan harus bisa diterima dan berkomunikasi dengan banyak pihak.

“Paling tidak bisa berkomunikasi dengan Kementerian ESDM, BUMN, Keuangan dan yang lebih unik bisa komunikasi dengan DPR,” kata Komaidi

Seperti diketahui, Kementerian BUMN merencanakan RUPS Pertamina yang hingga kini belum terang kepastiannya, kendati awalnya disebut-sebut pada 10 Juni 2020. Dikabarkan sejumlah direksi bakal diganti, termasuk direktur hulu.

Selain itu, beberapa dirut anak usaha hulu Pertamina yang bersiap pensiun adalah Dirut PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso, dan Direktur Utama PT Pertamina International EP Deni S Tampubolon. Adapun Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf telah pensiun per 22 Mei lalu.

Terkait dengan rencana RUPS PT Pertamina (Persero) harus dijadikan momentum untuk memilih figur baru direktur hulu Pertamina. Apalagi industri migas saat ini menghadapi triple shock. Nanang selama ini bergulat sebagai pimpinan perusahaan di hulu. Dia memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dan diperlukan hulu, berpengalaman kerja di dalam dan luar negeri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini