Bedanya si Miskin dan si Kaya dalam Kelola Keuangan ala Tung Desem

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 11 Juni 2020 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 320 2227892 bedanya-si-miskin-dan-si-kaya-dalam-kelola-keuangan-ala-tung-desem-Obquc0V9Cc.jpg Kemiskinan (ABC)

JAKARTA - Istilah 'yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin' selalu terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ternyata di balik dari itu semua ada perbedaan yang mendasar dalam mengelola keuangan antara si kaya dan si miskin.

Founder TDW Group Tung Desem Waringin mengatakan, yang membedakan antara si kaya dan si miskin adalah dalam memanfaatkan pendapatannya. Menurut Tung Desem, si miskin sering kali menggunakan pendapatannya untuk bergaya dulu.

 Baca juga: Solusi bagi Tipe si Cuek dengan Catatan Keuangan

“Orang miskin untuk gaya dulu. Orang maskin masuk ke pengeluaran 100% enggak punya aset. Income kecil tetap bisa,” ujarnya dalam diskusi virtual, Rabu (10/6/2020) malam.

Sementara itu, untuk kelas menengah sebagian kecil pendapatannya masuk ke pengeluaran dan sebagian besarnya kewajiban. Yang dimaksud kewajiban adalah membayar cicilan mobil, motor, handphone hingga tas baru.

“Kalau menengah, sebagian kecil masuk pengeluaran masuk kewajiban. Nyicil mobil mewah, tas mewah,” ucapnya.

 Baca juga: Ada 4 Tipe Dalam Mengelola Keuangan, Kamu yang Mana?

Sedangkan orang kaya lanjut Tung Desem, sebagain pendapatannya adalah diperuntukan untuk pengeluaran dan sebagian besar untuk aset. Bahkan pengeluaran untuk aset cenderung lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran.

“Kalau orang kaya kalo oensapatan sebagain besar ke oengeluaran. Tapi senagian besar ditaroh ke aset yang menghasilkan uang,” ucapnya

Oleh karena itu lanjut Tung Dasem, agar bisa menjadi orang kaya mulai sejak dini mengalokasikan untuk aset. Sedangkan sisanya baru dikeluarkan untuk pengeluaran.

“Yang kaya semakin kaya sebagian pengeluaran sebagian ke aset. Ketika seorang terima duit langsung dimasukan. Dari aset Terima duit sisihkan bedanya orang kaya dan miskin itu dihabiskan dulu kalo ada sisanya baru disisihkan. Buang duit itu pinter banget enggak usah diajarin pinter banget,” ucapnya.

Menurut Tung Desem, kebanyakan si miskin sering mengutamakan bergaya dibandingkan investasi. Hal ini sama seperti hukum fisika yang mana tekanan berbanding lurus dengan tekanan.

“Gaya berbanding lurus dengan tekanan. Kalo banyak tekanan kita kebanyakan gaya. Boleh gaya enggak? Kalo pasif income segede gajah kalian boleh bergaya segeda kerbau,” ucapnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini