Apa Kabar Pak Tani di Tengah Covid-19?

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 17 Juni 2020 12:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 17 320 2231514 apa-kabar-pak-tani-di-tengah-covid-19-nATyH15Xtw.jpg Kesejahteraan Petani di Tengah Covid-19. (Foto: Okezone.com/Bulog)

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi IV yang membidangi sektor pertanian menyotori dampak pandemi Covid-19 terhadap penurunan kesejahteraan petani. Berdasarkan data Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) mengalami penurunan.

Penurunan NTP sebesar 102,09 atau turun 1,22% dibandingkan dengan NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP terjadi karena adanya penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (lt), yaitu sebesar 1,08%, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,14%. Data NTUP pada Maret 2020 menunjukkan adanya penurunan sebesar 102,90 atau turun 1,18 persen dibandingkan dengan NTUP bulan sebelumnya.

Baca Juga: Apa Sih Bedanya Benih dan Bibit?

Melihat data tersebut, Komisi IV menilai penting pemerintah memperhatikan kesejahteraan petani dengan cara melakukan intervensi kebijakan yang berpihak kepada petani. Penurunan NTP dan NTUP berdampak tidak baik terhadap petani, khususnya di tengah perlambatan ekonomi di tengah pandemi saat ini.

“Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini, kita perlu memiliki keberpihakan terhadap kelompok rentan. Apalagi mengingkat sebagian besar dari penduduk kita di Indonesia, berpofesi sebagai petani,” tutur Anggota Komisi IV DPR Charles Meikyansah, dalam keterangannya, Rabu (17/6/2020).

Baca Juga: Jadi Food Estate, Apa Aja Sih Potensi Pertanian di Kalteng?

Apalagi berdasarkan data Food Agricultural and Organization (FAO) 2018 menunjukkan bahwa 93% mayoritas petani Indonesia adalah petani kecil (smallholder farmers). Hingga saat ini masih terdapat 88 kabupaten/kota rentan pangan, sebagaimana dilansir oleh Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) pada 2018 lalu.

Sebagian besar daerah rentan pangan tersebut terletak di wilayah timur Indonesia. Masalah ini semakin serius dengan adanya pandemi Covid-19 yang mengancam perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

“Langkah strategis harus dilakukan untuk memastikan daerah-daerah rawan pangan bisa melewati masa pandemi ini dengan keadaan yang baik, tanpa adanya permasalahan di sektor pangan,” tuturnya.

Oleh karena itu, produksi pertanian untuk mencukupi kebutuhan di daerah-daerah rentan pangan. Tentu jalur distribusi (supply-chain) dipastikan agar tidak ada kendala dalam distribusi kebutuhan pangan.

Kebijakan yang tepat di sektor pertanian sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi, misalnya dengan cara pembelian alat dan mesin pertanian (alsintan) yang kemudian berdampak terhadap produksi yang meningkat. Keberhasilan Kementerian Pertanian dalam menjaga performa baiknya sangat berpengaruh terhadap ekonomi nasional.

Misalnya kita bisa melihat data Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan 1 tahun 2020 tumbuh positif 12,84 persen (y on y) dibandingkan triwulan 1 tahun 2019 lalu, sebesar 12,65%. Meski hanya tumbuh 0,02 persen, PDB Pertanian adalah ketiga terbesar kontribusinya bagi PDB nasional di triwulan 1 tahun 2020. Pertumbuhan dan kontribusi ini tentu harus diapresiasi di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini