Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sri Mulyani: Biaya Penanganan Covid-19 Naik Jadi 4,2% dari PDB

Taufik Fajar , Jurnalis-Senin, 22 Juni 2020 |12:38 WIB
Sri Mulyani: Biaya Penanganan Covid-19 Naik Jadi 4,2% dari PDB
Sri Mulyani di Komisi XI DPR RI (Foto: Okezone/Taufik Fajar)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menyebut anggaran penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional dipastikan akan mengalami kenaikan. Akibatnya, besaran anggaran penanganan itu terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan semakin besar.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta. Menurutnya, biaya penanganan tersebut akan kembali dinaikkan dengan adanya revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020.

 Baca juga; Target Penerimaan Perpajakan 2021 Dihantui Ketidakpastian Covid-19

"Maka itu anggaran untuk penanganan Covid-19 dinaikkan dari Rp405,1 triliun menjadi Rp696,2 triliun," ujar dia, Senin (22/6/2020).

Dengan catatan itu, lanjut dia, maka besaran stimulus yang akan digelontorkan pemerintah menjadi semakin tinggi, yakni mencapai 4,2% dari PDB sedikit naik dari catatan sebelumnya yang hanya 2,7% dari PDB. Walaupun naik, besaran stimulus itu masih lebih rendah dari negara lain.

 Baca juga: Sri Mulyani Berbenah Turunkan Pengangguran dan Kemiskinan di 2021

"PDB Indonesia kalau diukur dengan paket revisi Perpres 54 maka kita memberikan stimulus hampir 4,2% dari PDB," ungkap dia.

Dia juga menjelaskan, saat ini negara yang paling banyak menggelontorkan stimulus kepada warganya yakni Jerman, sebesar 20% dari PDB nya yakni mencapai 19,3%. Diikuti oleh Jepang dan Italia yang mencapai 14,3% dari PDB.

 Baca juga: Ekonomi RI Ditarget 4,5%-5,5% Tahun Depan, Optimistis atau Realistis?

"Lalu untuk Inggris, mencapai 13,7% dari PDB, Amerika Serikat mencapai 13,6%, Australia 9,9% dari PDB, Perancis 9,5% Kanada 8,6%, Korea 7,9% dan Afrika Selatan serta Turki masing-masing 6%.

Sedangkan, China masih cukup tinggi sekitar 5,6% dari PDB nya, kemudian ada India mencapai 5,2%, Arab Saudi 4,9%, Brazil sedikit di atas Indonesia, yakni 4,6%, Argentina 3,8% dari PDB, Meksiko 3,3% dan Rusia hanya mencapai 1,8% dari PDB nya.

"Jadi dari persentasi PDB nya, seperti Jerman hampir 20% dari PDB hingga Rusia yang hanya 1,8% dari PDB nya, itu agar ekomominya bisa kembali ke jalur positif," tandas dia.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement