Krisis Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19, Kerugian Capai USD12 Triliun

Kamis 25 Juni 2020 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 320 2236212 krisis-ekonomi-akibat-pandemi-covid-19-kerugian-capai-usd12-triliun-9KbBuC2zDP.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan, pandemi virus corona memicu krisis ekonomi menyebabkan PDB dunia turun 4,9% tahun ini. Covid-19 juga mengakibatkan kerugian USD12 triliun dalam dua tahun ke depan.

Penutupan bisnis di seluruh dunia menyebabkan PHK ratusan juta orang, dan ekonomi utama di Eropa turun dua digit dalam krisis terburuk sejak Depresi Hebat hampir 100 tahun lalu.

Prospek pemulihan pasca-pandemi sarat "ketidakpastian" karena penularan virus yang tidak terduga, kata IMF dalam laporan World Economic Outlook yang diperbarui.

Baca Juga: IMF: Ekonomi Indonesia Minus 0,3% di 2020 tapi Tahun Depan Tumbuh 6,1%

"Pandemi Covid-19 lebih berdampak negatif terhadap aktivitas dalam paruh pertama tahun 2020, dan pemulihan diproyeksikan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya," kata IMF dilansir dari VOA, Kamis (25/6/2020).

Sementara bisnis dibuka kembali di banyak negara dan China mengalami peningkatan aktivitas yang lebih besar dari perkiraan, gelombang kedua penularan virus mengancam kondisi ekonomi, kata laporan itu.

Baca Juga: Kontraksi Lanjutan, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II Lebih Rendah

PDB dunia diperkirakan pulih hanya 5,4% tahun 2021, itu pun kalau semuanya berjalan baik, kata IMF. Dalam beberapa bulan ke depan akan ada lebih banyak plang "disewakan" karena banyak bisnis yang tutup akibat pandemi virus corona menyebabkan kantor dan toko kosong, berpotensi mengakhiri peningkatan panjang pasar real estat komersial di Amerika.

Hanya sebagian hotel, restoran, dan toko yang tutup mulai bulan Maret beroperasi kembali, dan banyak yang mungkin tidak akan buka lagi. Pemilik lahan-lahan komersial melaporkan semakin banyak penyewa telat membayar. Mereka memperkirakan akan semakin banyak toko-toko kosong sampai akhir tahun.

Selain itu, ada dua kecenderungan yang memperburuk situasi: penyewaan ruang kantor semakin kecil karena banyak karyawan bekerja dari rumah, dan semakin banyak orang belanja online, sehingga ruang ritel semakin kecil di wilayah pusat kota dan mal.

Ruang-ruang komersial yang kosong menandai perubahan tajam pasar real estat yang meningkat pesat di New York, Chicago dan kota-kota lain dalam beberapa tahun ini. Wabah virus mendorong bisnis apa pun cenderung simpel dan nyaman daripada gengsi dengan alamat di kota besar.

Efeknya sangat merugikan bagi pemilik ruang sewa dan ekonomi lokal. Pasar real estat komersial yang lemah bisa berarti PHK bagi sekitar 3,6 juta pekerja, dan di perusahaan penyedia barang dan jasa untuk perusahaan real estat. Selain itu, pasar yang lemah tidak menarik investor, sehingga membatasi kegiatan konstruksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini