Detik-Detik Bos Inalum Diusir dari Rapat DPR

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 09:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 07 01 320 2239262 detik-detik-bos-inalum-diusir-dari-rapat-dpr-Es6UZiewwn.jpeg Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Debat Anggota Komisi VII Fraksi Partai Demokrat Muhammad Nasir dan Direktur Utama Mind ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Orias Petrus Moedak berujung tindakan pengusiran. Keduanya debat panjang mengenai refinancing yang dilakukan perseroan untuk menutupi utang perseroan yang sebelumnya digunakan untuk mengambil saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Adapun refinancing yang dilakukan oleh MIND ID adalah sebesar USD2,5 miliar.

Ketegangan memuncak ketika Muhammad Nasir mengusir Orias dari ruang rapat Komisi VII. Nasir tak puas dengan jawaban Orias mengenai utang Inalum. Nasir bahkan menyebut jika tidak bisa menjawab dan memebriakn data detil lebih baik Orias dikelaurkan dari ruang rapat.

"Itu yang kami khawatirkan. Makanya kita minta data detilnya. Kalau bapak sekali lagi gini, saya suruh Bapak keluar dari rapat," ucap Nasir dalam RDP dengan Komisi VII, Selasa (30/6/2020).

Baca juga: Setoran Pajak dan PNBP dari Inalum Berkurang 50% Tahun Ini

Mendengar usiran Nasir, Orias pun tak keberatan. Dia justru meminta izin kepada Ketua Rapat untuk keluar karena adanya usiran dari Nasir.

"Kalau bapak suruh saya keluar, ya saya izin keluar," jawab Orias.

Jawaban Orias membuat Nasir geram dan menuding bahwa Orias hanya main-main dalam rapat kali ini karena tidak menyediakan data yang tidak lengkap.

"Bapak bagus keluar, enggak ada gunanya di sini. Anda bukan buat main-main di DPR. Anda bukan buat main-main di sini," ucap Nasir sambil menggebrak meja.

Baca juga: Panas, Bos Inalum Kehabisan Akal Ladeni Anggota DPR soal Pembelian Saham Freeport

Seolah tak takut dikeluarkan, Orias pun kembali menjawab pernyataan dari Nasir. Orias pun menyebut jiak dirinya tidak main-main.

"Saya tidak main-main (di sini)," kata Orias.

Nasir pun kemudian menjawab kembali pernyataan Orias. Nasir menyebut jika Orias main-main dalam rapat karena tidak bisa menjawab dan juga menyediakan data yang tidak lengkap.

Nasir pun meminta kepada pimpinan rapat Alex Noerdin untuk tidak mengundang lagi Orias dalam rapat DPR. Dia juga bakal menyurati Menteri BUMN Erick Thohir agar Orias dicopot dari jabatannya.

"Anda itu enggak lengkap bahannya. Enak betul Anda di sini. Siapa yang naruh Anda di sini? Kurang ajar Anda di sini. Kalau Anda enggak senang, Anda keluar! Kau pikir punya saudara kau ini semua," lanjut Nasir.

Lantas benarkah penjelasan dari Bos Inalum tak jelas dan tak lengkap? Sikap marah-marah Nasir di atas merupakan yang kedua kalinya dalam rapat hari ini.

Sebelumnya pada awal rapat dibuka, Nasir mengajak debat Orias karena mempertanyakan kejelasan utang Inalum.

Dalam sesi awal rapat, sebenarnya Orias hendak menjelaskan materi paparan sesuai dengan agenda yang ditulis dalam undangan Komisi VII DPR yaitu kinerja BUMN tambang dan kontribusinya selama masa pandemi. Lalu, proyeksi pendapatan pemerintah sebelum dan sesudah akuisisi 51% saham Freeport.

Orias menjelaskan mengenai aktivitas perusahaan ketika membeli saham mayoritas dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Demi mengambil alih saham mayoritas PTFI, Perseroan menerbitkan utang.

Baca Juga: Hari Ini, Inalum Resmi Kuasai 51% Saham Freeport 

Untuk menutupi utang tersebut, perseroan menerbitkan utang baru senilai USD2,5 miliar untuk refinancing sejumlah utang yang akan jatuh tempo dalam beberapa tahun ke depan, khususnya di level induk atau Inalum. Selain itu, dana tersebut digunakan untuk akuisisi 20% saham PT Vale Indonesia Tbk.

Menurut Orias, langkah tersebut karena dalam dua tahun setelah ambil alih saham freeport ini karena memang tidak ada penerimaan negara yang didapat. Sebab, penerimaan negara baru akan didapat oleh holding BUMN tambang dari ambil saham PTFI pada 2021 mendatang.

"Jadi waktu kami beli memang 2 tahun akan kosong penerimaan. Jadi akan balik di 2021. Level produksi di 2021 akan sama ekspektasinnya seperti 2018, jadi harganya tembagannya di 2018, kami ekspektasi dapat dividen 2021 itu USD350 juta dan akan meningkat bertahapa dan ekspektasi akan menerima minimal USD 1 miliar di 2021 dan seterusnya," jelasnya.

Baca Juga: Puncak Debat soal Utang, Anggota Komisi VII Usir Bos Inalum dari Rapat

Nasir pun kemudian menanyakan kembali alasan mengapai harus berhutang. Sebab dirinya menilai jika pengelolaan saham PTFI tidak benar karena membeli dengan utang dan membayarnya dengan utang

"Coba jelasin ini apa manfaatnya? Kok kita jadinya pusing. Jadi ini kalau terjadi perang, ini covid sama saja dengan perang, masa kita suruh bayar lagi? Apa apaan. Jadi yang logikalah, jangan kita gadaikan semua ini," tanya Nasir.

Lalu, Orias pun menjelaskan jika refinnancing yang dilakukan Mind Id bukannlah untuk membayar kembali kepada PTFI. Sebab, refinancing yang dilakukan perseroan adalah untuk membayar utang yang akan jatuh tempo dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Orias, refinancing utang obligasi yang akan jatuh tempo pada 2020 dan 2023 diklakukan dengan cara perseroan membeli langsung obligasi dari pemegang obligasi. Kemudian, Inalum menawari pemegang obligasi dengan obligasi baru yang memiliki tenor lebih panjang.

Dengan menerbitkan utang baru ini, beban bunga yang ditanggung perseroan lebih rendah 0,7% dari beban bunga sebelumnya. Sehingga, beban bunga yang ditanggung perseroan berada di kisaran 5,4 % saja per tahun.

"Ada lebih USD 1,5 miliar untuk refinancing anak usaha yang memiliki bunga tinggi. Kalau yang bond, mungkin karena prosesnya rumit, kita akan lewat pasar. Ini mekanismenya sedang kita pikirkan," jelasnya.

Kemudian Nasir pun meminta penjelasan mengenai cara perusahaan untuk mendapatkan utang. Dan juga Nasir menanyakan menanyakan mekanisme penerbitan utang obligasi yang tidak menggunakan jaminan.

Baca Juga: Efisiensi, Inalum Buka Opsi Rumahkan Karyawan

Hal ini pun langsung dijawab oleh Orias. Orias menjelaskan bahwa instrumen obligasi bukanlah utang dengan ikatan aset kolateral sebagai jaminan. Praktik penerbitan utang seperti ini adalah hal wajar dilakukan oleh korporasi di manapun.

"Jadi pak, pinjaman yang USD4 miliar dan USD2,5 miliar enggak ada kolateralnya. Clean. Ini kami terbitkan global bond, ada 300 institusi yang partisipasi. Seluruh dunia. Karena ini di pasar modal, pembelinya bergerak setiap hari. Tapi yang pasti enggak ada kolateral," kata Orias.

Lalu Orias Nasir pun kembali mempertanyakan bagaimana bisa seorang peminjam memberikan utang tanpa adanya jaminan. Apalagi jika nantinya utang tersebut sudah jatuh tempo, maka tidak ada jaminan yang dijaminkan oleh perseroan.

"Sumber dana yang tidak bisa dapat jaminan dari mana saja/ Gimana caranya? Kita enggak paham pak dari mana orang yang enggak bisa pakai jaminan? Atas dasar apa mereka kasih pinjaman," tanya Nasir.

Orias pun kembali menjelaskan jika pinjaman yang dilakukan adalah lewat proses obligasi yang tidak ada jaminan. Perusahaan yang memberikan pinjaman tersebut melihat jika potensi dan kemampuan perseroan sangat mampu untuk membayar utang.

"Ini dari pasar modal pak. Itu memang selalu saya kerjakan pak kita pinjam enggak pakai jaminan pak. Jadi ini penerbitan biasa di pasar modal dan itu terjadi di Jakarta juga. Karena mereka melihat kemampuan kita ke depan. Mereka tidak ragu," jawab Orias.

Kemudian Nasir pun kembali bertanya bagaimana kemampuan perseroan untuk membayar utang. Apalagi jika nantinya produksi yang dilakukan perseroan ini tidak memenuhi ekspektasi dari target yang sudah ditetapkan perseroan.

"Kalau sumber dananya tidak memenuhi gimana cara bayarnya? Kalau tahun depan enggak bisa bayar gimana? Utang lagi pak?

Orias pun menegaskan perseroan optimistis dapat membayar utang tersebut. Hal itu juga ditegaskan dengan peringkat yang diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional terhadap perseroan dan surat utang itu.

Orias juga menegaskan bahwa perseroan masih memiliki posisi kas yang cukup kuat yakni Rp42 triliun. Apalagi jika melihat produktivitas ke depan yang didapat dari perseroan dan anak usahanya, dirasa tdiak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan terkait penerbitan utang ini.

"Ini makanya kita lakukan excersice tahun sebab kalau enggak melakukan apa-apa untuk membayar, maka tekanan USD1 miliar itu tahun depan menjadi terlalu besar. Makanya kita lakukan pembayarannya setengahnya dan jatuh temponya digeser 10 tahun dari sekarang," jelasnya.

Kemudian Nasir pun bertanya kembali, bagaimana jika akhirnya perseroan tidak mampu membayar utang obligasi. Apakah perseroan akan kembali menerbitkan utang untuk menutupinya.

"Saya sekarang bukan bagaimana selesaikan dengan cara utang? bukan tambah buat masalah. Bapak kalau cuma ambil keuntungan dari 3 perusahaan ini, bangkrut ini. Digadaikan itu," tanya Nasir.

Orias pun kembali menegaskan jika penerbitan utang atau obligasi ini sama sekali tidak menjaminkan aset holding BUMN tambang. Dirinya juga membantah jika PTFI kembali digadaikan untuk mendapatkan utang baru.

"Kalau posisi hari ini, bahwa memang posisi hari, kita akan bisa lewati kewajiban itu dan kita, kita sudah lakukan hasil stress test, kita bs bayar. Dan orang lain pun bisa. Freeport itu buka digadaikan pak," kata Orias.

1
4
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini