Kenali Konsep YOLO, Cara Kelola Pengeluaran Sebelum Menyesal

Natasha Oktalia, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 21:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 320 2242036 kenali-konsep-yolo-cara-kelola-pengeluaran-sebelum-menyesal-gJe40j9m0D.jpg Pengelolaan Keuangan (Shutterstock)

JAKARTA - Dalam pengelolaan keuangan, biasanya ada dua tipe sifat manusia, yaitu yang membesarkan keran pendapatan atau mengecilkan keran pengeluaran. Tentunya, besar atau kecil bisa ditentukan oleh masing-masing individu.

Tidak bisa dipungkiri, dorongan rasa ingin membeli suatu barang saat berkantong tebal adalah lumrah. Tetapi setelah membeli barang yang disuka, lambat laun menjadi bersalah karena bersikap boros? Wajarkah?

 Baca juga: Pindah Rumah Bikin Galau, Intip 5 Cara Hemat Berikut

Mengutip Instagram Jouska, Jakarta, Senin (6/7/2020), jawaban dari pertanyaan di atas adalah "wajar". Berfikirlah bahwa kamu hanya hidup satu kali saja (You Only Live Once/YOLO).

Jadi, wajar jika kamu merasa boros, karena nantinya di saat membutuhkan dana darurat, tabungan malah belum tercukupi. Hal ini menjadi salah satu penyesalan.

Selain itu, harusnya uang yang digunakan untuk membeli barang tersebut dapat dijadikan tabungan. Terutama sebagai dana darurat untuk keadaan genting.

 Baca juga: Gaji Rp4 Juta Ingin Beli Sepeda Sekelas Brompton, Caranya?

Alangkah lebih baik, jika penggunaan uang yang dimiliki digunakan sebijak-bijaknya. Pengeluaran darurat bisa terjadi kapan saja, dan siap tidak siap masing-masing individu harus mempunyai dana darurat tersebut, seperti salah satu kutipan, menjadi bahagia bukan berarti harus mempunyai banyak uang.

Oleh sebab itu, tahanlah keran pengeluaran yang dipunya. Caranya bagaimana?

 Baca juga: Gaji Cuma Rp4 Juta, Penting Enggak Sih Beli Sepeda?

Sekarang, perlu membua akun hura-hura. Misalkan, setiap penambahan aset, 10%-nya ditransfer ke akun hura-hura.

Selain tabungan dalam bentuk uang tentunya tabungan lain yang tidak kalah penting adalah pengalaman yang baik, hubungan baik serta perbuatan baik. Berdasarkan apa dimiliki oleh individu masing-masing hal tersebut dinilai cukup sebagai tabungan pribadi.

Oleh sebab itu, di dunia yang fana dan penuh dengan ketidakpastian ini, motif untuk menyimpan uang idealnya untuk kebutuhan tak terduga. Selain itu, dapat juga kebutuhan untuk masa ke depannya.

Sudah jelas bukan? Bahwa uang yang dipergunakan sebagai alat pembayaran bukan sebagai alat penimbun kekayaan. Banyak hal yang tidak pasti akan terjadi di dunia, motif yang ideal untuk kebutuhan tidak terduga adalah kebutuhan di kemudian hari.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini