Jadi Subholding, PGN Diminta Tak Lagi Tradisional Jual Gas

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 19:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 320 2242098 jadi-subholding-pgn-diminta-tak-lagi-tradisional-jual-gas-kjw1TOg1OE.jpg Produksi migas (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk diminta untuk melakukan inovasi bisnis dalam penyaluran gas. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat bisnis perseroan sebagai perusahaan gas nasional.

Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam mengatakan, sebagai agregator gas PGN harus membuat terobosan untuk membuka peluang bisnis baru pada sektor gas di tanah air. Sehingga, penyaluran bisnis gas ini tidak lagi dilakukan secara tradisional.

"PGN harus melakukan terobosan di bidang gas tidak lagi tradisional melakukan kegiatan selama ini," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR-RI, Senin (6/7/2020).

Baca Juga: PGN-Pertamina EP Sepakati Perjanjian Jual Beli Gas USD4/Mmbtu

Sebagai contohnya adalah dengan mengolah gas bumi menjadi bahan baku Liquified Petroleum Gas (LPG). Langkah ini menjadi peluang bisnis mengingat kebutuhan subsidi LPG terus meningkat.

Ridwan melanjutkan, PGN juga bisa memperluas jangkauan penyaluran gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dengan iso tank atau truk pembawa gas.

"kita menaikkan volume LPG 3 kg 7,5 juta m3 dari 7 juta. kalau tidak salah kenaikannya subsidinya Rp2 triliun total Rp 5 triliun," kata Ridwan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR Ramson Siagian menambahkan, dalam meningkatkan pemanfaatan gas, PGN bisa bekerjasama dengan PLN. Nantinya PLN bisa membangun pembangkit tenaga gas skala kecil.

Baca Juga: BPH Migas Indentifikasi Kendala Penurunan Harga Gas

"PGN Bisa bekerjasama dengan PLN membangun pembangkit small scale, gasnya disuplai dari PGN," kata Ramson.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PGN Suko Hartono mengatakan, pihaknya memang sudah memiliki rencana pengembangan bisnis ke industri petrokimia. Sebab nantinya perusahaan akan melakukan hilirisasi gas dari metanol menjadi Dimethyl Ether (DME).

Nantinya, produk hilirisasi gas ini bisa menjadi bahan baku pengganti LPG yang sebagian besar masih impor. Dari hasil studi, wacana tersebut direncanakan bisa terealisasi pada 2022 atau 2023.

"Kemudian amonia dan turunannya kami batasi portofolio 5—15% karena itu bukan bisnis kami, itu bisnis kerja sama dengan subholding kilang, kami melihat kami bisa meningkatkan volume dan kami tahu bisnis di hilir. Jadi kami masuk portofolio hilir di petrochemical, di metanol dan DME karena itu bisa gantikan LPG," jelasnya.

Tak berhenti sampai di situ lanjut Suko, inovasi lainnya adalah memperluas penyaluran gas ke konsumen rumah tangga di wilayah yang belum terdapat jaringan pipa gas, dengan menggunakan LNG yang di bawah oleh ISO tank. Proyek ini akan dikerjasamakan dengan badan usaha swasta atau pengembang.

Di sisi lain, perseroan juga akan mengembangkan bisnis pengadaan internet dengan memanfaatkan jaringan gas bumi untuk memasang kabel fiber optik.

"Kami punya anak perusahaan PGASCom kami pasang jaringan pipa pakai fiber optik untuk kontrol laju arus dsb, kami pasang LNG storage depan perumahan kami pasang infrastruktur pipa sekalian monitoring fiber optik, tapi ternyata bisnis ini luar biasa kami bisa lakukan tambahan menjual produk internet data dan televisi nanti muncul produk gasnet jualan gas bonus internet dan TV," kata Suko.

Suko mengharapkan, dalam menjalankan peran sebagai agregator gas PGN masih memerlukan kepastian pasokan gas baik dari sumur gas atau LNG. Padahal, jika sudah ada kepastian penyerap gas akan membuat kegiatan pencarian gas bergairah karena sudah ada kepastian pembeli gas.

"Jaminan suplai dari sumur gas yang ada dan LNG, dari hulu ada kepastian setelah melakukan eksplorasi ada pembelinya holding gas PGN itu konsepnya perlu dukungan pemerintah itu menjadi penting," kata Suko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini