Bulan Depan Belum Pasti Gajian, Yuk Mulai Siapkan Dana Darurat

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 17 Juli 2020 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 17 320 2247760 bulan-depan-belum-pasti-gajian-yuk-mulai-siapkan-dana-darurat-vXy3bgw4Fu.jpeg Gaji (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus Corona membuat ketidakpastian pun terus menghantui. Salah satunya adalah ketidakpastian pada pekerjaan.

Memang pada bulan ini, kamu masih bisa bekerja dan mendapatkan gaji utuh. Namun hal tersebut belum tentu akan terjadi selamanya mengingat, saat ini pandemi virus Corona masih berlangsung.

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengerem pengeluaran. Khususnya pengeluaran yang sifatnya foya-foya atau leasure.

Baca Juga: Colek Bos BRI, Pengusaha Muda Minta Kemudahan Relaksasi Kredit 

Menurut Andi, mulai sejak dini mengalokasikan pengeluaran untuk dana darurat. Atau bisa juga kamu mengalokasikan penghasilan kamu untuk investasi meskipun jumlahnya tidak terlalu besar.

"Mengerem dulu untuk pengeluarannya. Jadi jangan berfoya-foya dulu. Artinya jajan jajan dikurangi. Terus kemudian pengeluaran difokuskan untuk dana darurat dan tabungan. Bahkan dikit-dikit mulai berinvestasi artinya jangan terlalu banyak," ujarnya saat dihubungi Okezone, Jumat (17/7/2020).

Menurut Andi, idealnya alokasi dan darurat adalah sebesar 10% dari penghasilan. Artinya jika penghasilan kita adalah Rp5 juta, maka dana darurat yang disiapkan adalah Rp500 ribu setiap bulan.

Baca juga: Jangan Suka Ngutang, Milenial Harus Sadar Pentingnya Kelola Keuangan

Namun lanjut Andi, saat ini situasinya berbeda sehingga dana darurat yang disiapkan juga harus lebih besar. Menurutnya, seharusnya dana darurat yang disiapkan pada saat pandemi adalah 30% dari penghasilan.

Artinya jika kamu memiliki penghasilan Rp5 juta, maka Rp1,5 juta merupakan dan darurat yang wajib kamu sisihkan. Alokasi dana darurat ini bisa kamu dapatkan dari anggaran leasur yang semula besaran anggarannya adalah 10% dari penghasilan.

"Idealnya si 10% dari penghasilan kita. Cuma dalam kondisi seperti ini kalau saya menyarankan hal hal yang kenikmatan hidup kita rem dulu kita stop dulu jadi lebih banyak fokusnya di dana darurat aja. Bisa 20-30% penghasilan kita untuk dana darurat dan tabungan dan memang impactnya adalah mengurangi pengeluaran yang bersifat leasur. Jajan , makan di resto, nongkrong di kafe kita stop dulu aja kalau kita merasa tempat saya kerja akan goyang nih. Kaya gitu," jelasnya.

Baca juga: Gaji Dipotong tapi Cicilan Menumpuk, Ada 2 Solusi Mengatasinya

Menurut Andi, dana darurat ini bisa menyatu dengan anggaran tabungan per bulan. Atau kamu juga bisa memisahkan dana darurat dengan uang yang harus kamu masukan ke tabungan.

"Kalau bisa dipisah lebih bagus. Cuma kalau repot alokasinya pembagiannya dijadikan satu saja enggak apa-apa. Karena kan prinsipnya dana darurat itu kan dana yang bisa dicairkan digunakan sewaktu waktu. Kebanyakan dalam bentuk di dalam rekening tabungan kita," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini