Apa Alasan Google Cs Guyur Investasi Ratusan Triliun Rupiah di India?

Natasha Oktalia, Jurnalis · Senin 20 Juli 2020 22:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 20 320 2249275 apa-alasan-google-cs-guyur-investasi-ratusan-triliun-rupiah-di-india-SDUGptjIPi.jpg Investasi Perusahaan Teknologi di India. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Perusahaan berbasis teknologi ternama dunia menanamkan modalnya USD17 miliar atau setara Rp251,4 triliun (kurs (Rp14.792 per USD) India pada awal 2020. Investasi tersebut diperuntukkan untuk membantu jaringan internet bagi masyarakat India.

Adapun perusahaan teknologi di antaranya, Amazon menjanjikan USD1 miliar, diikuti dengan Facebook yang menginvestasikan hampir USD6 miliar pada akhir April dan yang terakhir Google yang berkomitmen dengan dana investasi USD10 miliar.

Seperti dilansir dari laman CNN Business, Jakarta, Senin (20/7/2020), sejak pandemi Covid-19 meluas di sebagian besar negara dunia, hal ini membuat perekonomian global menurun. India pun menja negara yang sangat terdampak karena Covid-19.

Baca Juga: Digitalisasi, OJK Yakin Nasabah Tak Mau Lagi ke Kantor Cabang

Ditambah lagi pertengkaran diplomatik India dengan China diketahui meluas hingga sektor teknologi. Padahal, India menjadi daya tarik bagi perusahaan-perusahaan teknologi.

Untuk itu, perusahaan teknologi yang sebagian besar berasal dari AS melakukan investasi kepada India di bidang teknologi yang sudah lebih dari USD20 miliar.

Investasi internet di India memiliki peluang yang sangat besar, sebab pengguanaan teknologi berbasis internet saat ini mencapai lebih dari 700 juta pengguna. Tapi sekitar setengah miliar belum pernah online.

Menurut Jay Gullish yang merupakan Kepala Kebijakan Teknologi di Kelompok Advokasi US-India Business, banyak keyakinan bahwa dalam jangka waktu panjang India akan menjadi pasar yang baik denan peraturan yang cukup adil dan transparan.

Baca Juga: Transaksi Digital Meningkat, Covid-19 Bikin Sadar Masyarakat soal Layanan Online

Faktor China

Sebagian besar Silicon Valley ditutup dari China selama bertahun-tahun. Disebabkan oleh mekanisme sensor besar negara China. Selain itu, adanya undang-undang keamanan nasional yang kontroversial di berlakukan di Hongkong. Yang di mana layanan Google dan Facebook masih bisa diakses karena layanan internet yang relatif bebas.

Undang-undang yang memberikan otoritas bagi Hongkong yang menjadi kekuatan besar untuk mengatur paltform yang berbasis teknologi. 3 perusahaan besar seperti Facebook, Google dan Twitter mengatakan bahwa mereka akan berhenti berbagi data kepada pemerintahan Hongkong, sebelumnya TikTok telah mengambil langkah untuk keluar dari kota tersebut.

Mark Lemey yang merupakan Direktur Program Universitas Stanford di bidang Hukum, Sains dan Teknologi mengatakan bawha bisnis dengan China dinilai lebih sulit dan juga melibatkan kompromi moral yang meresahkan.

Pada pekan lalu, Donald Trump mengklaim kredit untuk menggagalkan rencana ekspansi sebuah perusahaan teknologi asal China, Huawei. Selain itu, pemerintah juga melarang "melihat" aplikasi Video singkat TikTok milik ByteDance China.

Hal ini juga langkah untuk menyelaraskan AS dan India. Sejumlah aplikasi China dan TikTok tentunya juga dilarang penggunaannya oleh pemerintah India. Setelah terjadinya bentrokkan sebelumnya yang menewaskan 20 tentara India yang memunculkan seruan untuk memboikot produk-produk China.

Tapi adanya hal ini dinilai bisa memperkuat hubungan teknologi antara India dan AS. Sebagian besar perusahaan rintisan besar India memiliki investasi kepada China yang cukup besar dan Smartphone China yang saat ini masih mendominasi pasaran India.

"India dan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara telah mencoba menyeimbangkan kedua kekuatan dengan menjalin hubungan ekonomi yang lebih besar dengan China sambil berpegang pada payung keamanan yang diberikan oleh Amerika Serikat," kata Ravi Shankar Chaturvedi, direktur penelitian di Institut Bisnis untuk Universitas Tufts di Konteks Global.

India dan AS telah memiliki hubungan teknologi yang sudah lama dengan ribuan insinyur yang bekerja di Silicon Valley, menurut Chaturvedi dan beberapa ahli lainnya. Selain itu, dorongan penggunaan Internet karena adanya aturan untuk beraktivitas dan bekerja dari rumah diyakinkan dapat meningkatkan daya tarik India sebagai pasar. Artian lainnya, sangat mudah juga untuk perusahaan Amerika saat mencari peluang di India.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini