"Saya datang tepat waktu, tapi dia ulur waktu saya dan saya tunggu. Apakah BPK ada audit utang luar negeri? Jawab BPK tidak ada. Lalu siapa yang peduli dengan syarat dari utang luar negeri yang menjerat, kan gitu?" tanyanya.
Menurut Ichsan, Bank Dunia seperti memberi pangkuan yang nyaman pada Indonesia. Sehingga seringkali ada sanjungan Bank Dunia kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dinilai cermat melakukan perhitungan.
"Saya pernah menulis sanjungan Bank Dunia itu posisinya merupakan bentuk perilaku memangku yang tujuannya sangat berbahaya. Bank Dunia memperlakukan kita senak-enaknya," tuturnya.
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) pemerintah pada akhir Mei 2020 sebesar USD192,1 miliar atau tumbuh 3,1% (yoy). Priortias utang tersebut digunakan untuk penanganan virus corona di Indonesia.
Perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi oleh arus modal masuk pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global dan tingginya daya tarik aset keuangan domestik, serta terjaganya kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Sentimen positif ini membawa pengaruh pada turunnya tingkat imbal hasil SBN sehingga biaya utang pemerintah dapat ditekan. (feb)
(Feby Novalius)