Bukan Hanya Produk, Investasi di Asuransi Juga Ngeri-Ngeri Sedap

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 30 Juli 2020 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 320 2254517 bukan-hanya-produk-investasi-di-asuransi-juga-ngeri-ngeri-sedap-wCfvGW6rde.jpg Asuransi (Shutterstock)

JAKARTA - Deputi Komisioner Pengawasan IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Moch Ihsanudin menilai bahwa bukan hanya produk asuransi, tapi investasi di asuransi juga ngeri-ngeri sedap. Karena di sisi lain, dana premi yang dikumpulkan tentunya harus diinvestasikan.

"Dari segi investasi, kalau sampai tidak benar pengelolaannya, ini akan menjadi permasalahan tersendiri, berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, kasus asuransi Jiwasraya misalnya," ujar Ihsan dalam acara Infobank Talk 'INSURTECH: Peluang dan Tantangan Asuransi di Era Digital' di Jakarta, Kamis (30/7/2020).

 Baca juga: 4 Tantangan Industri Asuransi, Kebanyakan Kasus Bikin Trauma Masyarakat

Dia menyampaikan, permasalahan asuransi yang meledak akhir-akhir ini bukan terletak pada kesalahan produk yang dijual atau diizinkan, tetapi justru dari sisi investasi.

"Kalau investasinya benar, ya pasti saat mau dicairkan barangnya ada, yang berarti barangnya itu liquid, meski dalam kondisi jatuh temponya diredeem atau surrendernya cukup masif," ucap Ihsan.

 Baca juga: Viral! Nasabah Resah Asuransi Pendidikan Tak Bisa Dicairkan

Jika investasinya, contoh Ihsan, dilakukan di SPM yang memiliki rating tinggi, atau bahkan disebut risk-free, return depositonya kadang tidak terkejar. Menurut dia, ini pilihan-pilihan yang harus dipilih juga oleh manajemen pengelola industri asuransi, khususnya asuransi jiwa.

"Karena asuransi umum investasinya cenderung sedikit karena hit and run. Satu tahun jatuh tempo selesai, biasanya dipilih premi baru. Beda dengan asuransi jiwa yang hitung-hitungan aktuarianya njelimet karena jangka panjang," cetus Ihsan.

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, dia menyebutkan bahwa OJK dituntut untuk membuat balancing. Saat ini pihaknya juga menyadari, tentunya dari sisi pengawasan, OJK perlu perbaikan dan juga tambahan personil.

"Moga-moga ke depan OJK bisa jadi regulator yang baik dan ideal untuk pengembangan industri. Dan juga di sisi lain, konsumen atau pemegang polis juga terlindungi," tutur Ihsan.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini