Industri Asuransi di Tengah Corona, Sulit Berkembang jika Face to Face

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 30 Juli 2020 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 320 2254556 industri-asuransi-di-tengah-corona-sulit-berkembang-jika-face-to-face-EmYWe7m7aG.jpg New Normal (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Penerapan teknologi digital di asuransi lebih jauh diharapkan dapat mendorong penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah. Melalui produk-produk asuransi yang lebih simple, dan klaim yang bisa dilakukan secara digital, diharapkan dapat menepis kesan bahwa asuransi rumit dan sulit diklaim.

Baca Juga: Masyarakat RI Masih Awam soal Asuransi 

Digitalisasi di asuransi kini diwarnai oleh makin maraknya kehadiran insurtech yang focus menawarkan produk dan layanan asuransi yang bisa diakses dengan platform digital. Insurtech dikenal umumnya adalah seperti pemasaran asuransi melalui platform digital.

Karena kemudahannya itulah, jalur distribusi ini dirasa sangat tepat untuk mendorong penetrasi asuransi. Keuntungan lainnya, adalah insurtech dapat meminimalkan biaya asuransi sehingga lebih efisien. Pemasaran asuransi secara digital juga lebih efektif dalam proses bisnis asuransi.

Baca Juga: 11 Cara Antisipasi Penyebaran Covid-19 di Kantor

Deputi Komisioner Pengawasan IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Moch. Ihsanudin mengatakan, literasi asuransi pertumbuhannya masih lambat, serta densitas dan penetrasi juga masih rendah.

Asuranso

Untuk IKNB, tambahnya, yang tumbuh cukup pesat adalah pegadaian dan fintech. Ihsanuddin juga mengatakan, ditengah kondisi ekonomi yang saat ini mengalami kontraksi memang agak sulit untuk memasarkan asuransi.

“Selama ekonomi belum membaik, atau income masyarakat belum pulih, dan industri asuransi belum sehat, tidak mudah memasarkan asuransi. Apalagi dengan model bukan face to face,” ujarnya dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis (30/7/2020).

Kendati demikian, Ihsan berpendapat bahwa persentase densitas dan penetrasi asuransi yang kecil ini bukanlah hal yang mengerikan.

Hal ini justru bisa menjadi peluang bagi insurtech untuk mendukung asuransi menjangkau masyarakat lebih mendalam, terlebih dengan jumlah penggunaan handphone dan internet aktif yang mencapai 338 juta.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini