Share

Indonesia Dihantui Resesi Ekonomi, Apa Itu?

Fakhri Rezy, Jurnalis · Selasa 04 Agustus 2020 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 04 20 2256885 indonesia-dihantui-resesi-ekonomi-apa-itu-88gXWQmvhP.jpg Resesi (Shutterstock)

JAKARTA - Resesi menghantui banyak negara di tengah wabah virus Corona atau Covid-19. Baru-baru ini Amerika Serikat masuk ke jurang resesi, begitu juga Singapura.

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 masih menunjukan positif. Walaupun kuartal II-2020 akan negatif, namun pemerintah pun memprediksi bahwa kuartal III-IV 2020 kembali pulih.

Hingga saat ini banyak yang prediksi Indonesia akan menyentuh level resesi. Namun, apakah resesi itu?

 Baca juga: Semua Negara Bisa Masuk Jurang Resesi Ekonomi

Melansir Business Insider, Jakarta, Selasa (4/8/2020), resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.

Namun, pada kenyataannya, ada banyak indikator yang menentukan apakah suatu negara sedang dalam resesi atau tidak.

 Baca juga: Ekonomi RI Kuartal II Terancam Minus, Ini Proyeksi Mantan Bos BI hingga Pengusaha

Mungkin cara yang lebih baik untuk memahami bagaimana para ahli mendefinisikan resesi, Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) - kelompok riset swasta dan nirlaba yang bertanggung jawab untuk melacak tanggal awal dan akhir resesi AS - menawarkan serangkaian indikator ekonomi yang lebih luas yang mencakup tingkat pekerjaan, pendapatan domestik bruto ( GDI), penjualan grosir-eceran, dan produksi industri.

Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.

Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yakin pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 0% pada 2020. Hal ini seiring pemulihan akan terjadi pada kuartal III dan IV.

"Untuk pemulihannya juga sangat tergantung pada penanganan Covid-19, terutama semester II yaitu kuartal III dan IV ini," ujar Sri Mulyani.

Menurut hitung-hitungannya, jika kedua faktor tersebut berjalan sesuai harapan, maka perekonomian di paruh kedua tahun ini masih bisa selamat dari zona negatif.

"Dengan proyeksi ekonomi di kuartal III berada di rentang 0% sampai tumbuh 0,4%, serta kuartal IV pertumbuhan ekonomi bisa mencapai antara 2% sampai 3%," kata Sri Mulyani.

"Kalau penanganannya efektif dan berjalan seiring pembukaan aktivitas ekonomi, maka ekonomi bisa recovery di kuartal III dengan positif growth 0,4%, dan pada kuartal IV akan akselerasi ke 3%. Sehingga total perekonomian kita masih bisa tumbuh positif di atas 0% di tahun ini," katanya.(rzy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini