Kepala BKPM Akui di Indonesia Serba Mahal, Investor pun Kabur

Rina Anggraeni, Jurnalis · Selasa 04 Agustus 2020 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 04 320 2256681 kepala-bkpm-akui-di-indonesia-serba-mahal-investor-pun-kabur-DXQRJrQZJt.jpg Rupiah (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) membeberkan beberapa penyebab investor asing enggan datang dan menanamkan modalnya ke Indonesia. Pasalnya harga tanah dan upah pekerja membuat investor lari dari Indonesia.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan penyebab utama kesulitannya menarik investasi asing bukan kebijakan fiskal, melainkan mahalnya tanah dan upah pekerja di Indonesia. Harga tanah dan upah itu terasa paling mahal saat dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Hal ini lah yang membuat daya saing Indonesia masih rendah di ASEAN.

 Baca juga: Selesaikan Investasi Mangkrak, Bos BKPM Pakai Taktik Juventus

"Banyak yang bertanya kenapa di Indonesia di saat negara lain investasi asing menurun, kok kita landai makanya itu yang kita perbaiki," kata Bahlil dalam webinar,Selasa (4/8/2020).

Dia melanjutkan masalah yang juga menyebabkan investor enggan berdatangan adalah terkait dengan upah pekerja di Indonesia. Lantaran, rata-rata upah minimum pekerja per bulan di Indonesia menjadi yang paling mahal di antara negara Asean.

 Baca juga: Kepala BKPM Sebut Pengusaha Jadi Pahlawan Ekonomi di Era Covid-19

Rinciannya, rata-rata harga upah minimum pekerja di Indonesia senilai USD279 per bulan atau sekitar Rp4,1 juta.

"Sementara itu, rata-rata upah pekerja di Malaysia hanya USD268 per bulan, Thailand dan Filipina masing-masing USD220 per bulan, dan Vietnam USD182 per bulan," jelasnya.

Dia menambahkan tarif air per meter persegi menjadi yang termahal kedua setelah Filipina. Tarif air rata-rata di Indonesia senilai USD0,89 atau Rp13.000 per meter persegi, sedangkan Filipina USD1,68 per meter persegi. Tarif air di Malaysia dan Vietnam lebih murah, yakni hanya USD0,53 per meter persegi, sedangkan Thailand USD0,4 meter persegi.

"Indonesia tercatat lebih mahal dibanding Malaysia dan Vietnam. Tarif listrik Indonesia senilai USD0,07 atau sekitar Rp1.000 per kWh, sedangkan Malaysia hanya USD0,05 per kWh dan Vietnam USD0,04 per kWh," tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini