Perhatikan Hal Ini agar RI Terhindar dari Badai Resesi di Kuartal-III

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2020 05:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 05 20 2257469 perhatikan-hal-ini-agar-ri-terhindar-dari-badai-resesi-di-kuartal-iii-l51QtfJ3d7.jpg Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia harus segera memikirkan nasib pelaku UMKM pada kuartal-III tahun 2020. Hal itu untuk menghindari badai resesi di Tanah Air, karena mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 minus 5,32%.

"Saya sangat yakin jika stimulus itu diperhatikan kepada perekonomian rakyat, pedagang kecil, pasar, UMKM akan mampu meningkatkan perekonomian," kata Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri kepada Okezone.

Baca Juga: Jika Indonesia Resesi, Pemerintah Harus Lakukan Apa?

Menurut dia, bila produk UMKM kembali laku di pasar nasional, maka nantinya perekonomian pun akan bergerak ke arah tren yang positif.

"Kalau sudah jadi tuan rumah, maka tidak butuh produk dari luar. Ini momentum, maka pemerintah harus kerja keras memberikan stimulus kepada mereka, sehingga bisa dipasarkan di dalam negeri," ujarnya.

Dia menambahkan, sifat masyarakat Indonesia yang konsumtif harus dimanfaatkan untuk meningkatkan penjualan barang-barang UMKM di pasar dalam negeri.

"Rakyat kita ini konsumtif, itu jadi momentum membangkitkan ekonomi kita," kata dia.

Baca Juga: Ekonomi RI Minus 5,32%, Pemerintah Bakal 'Buang-Buang' Duit 

Dia berharap pemerintah segera mencari terobosan agar program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) itu bisa tersalurkan secara maksimal. Kemudian, pedagang pasar merasakan manfaat dari pemberian beberapa relaksasi tersebut.

"Itu membuat stimulus sedikit tersendat. Kami berharap pemerintah agar stimulus bisa sampai ke pedagang pasar dan kecil lain," katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan bahwa resesi pada dasarnya sudah berlangsung apabila dalam dua kuartal berturut-turut angka pertumbuhan ekonomi negatif. Diperkirakan pandemi Covid-19 ini masih akan berlangsung di tahun 2021 bahkan tahun 2022.

"Menurut para ekonom dunia, resesi sudah terjadi bila dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi negatif secara tahun ke tahun (year on year)," kata Wamenkeu.

Dia melanjutkan, pemerintah menjaga kelompok masyarakat rentan terkena dampak Covid-19 yaitu perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, employment support (dukungan ketenagakerjaan) seperti kartu Pra Kerja, pengurangan beban melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT), diskon listrik, dan dukungan lainnya untuk rumah tangga.

"Pemerintah telah menyiapkan total anggaran Rp607,65 triliun untuk penanganan Covid-19 di mana untuk belanja kesehatan sebesar Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, UMKM Rp123,46 triliun, pembiayaan korporat Rp53,57 triliun, insentif dunia usaha Rp120,61 triliun, insentif sektoral dan Pemda Rp 106,11 triliun," katanya.

Selain itu, pemerintah akan memberikan dukungan untuk UMKM, melindungi dunia usaha termasuk Usaha Ultra Mikro (UMi) yang tergabung dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini