“Salah satu adaptasi itu adalah mengubah usaha tradisional menjadi usaha digital. Tampak juga bahwa para pelaku usaha cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi, namun mereka juga tetap optimis bahwa dengan berada dalam suatu ekosistem digital, usaha mereka dapat tetap tumbuh kedepannya, dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi,” ujarnya.
Ia menambahkan, riset tersebut juga menunjukkan sektor swasta turut terkena dampak dari pandemi. Proporsi Mitra GoFood baru yang berasal dari pegawai swasta adalah sebesar 24%, sedangkan sebelum pandemi proporsi mitra dari pegawai swasta hanya 18%. Selain itu, mitra yang tidak punya pengalaman usaha sebelumnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 43% dibandingkan pendaftar sebelum pandemi.
“Maka dari itu, tampak bahwa usaha kuliner menjadi sumber penghasilan alternatif bagi orang-orang yang kehilangan, atau mengalami penurunan penghasilan selama pandemi. Keberadaan ekosistem ekonomi digital seperti Gojek mempermudah akses bagi pengusaha pemula," tutur Alfindra.
Gojek telah berkontribusi secara keseluruhan ke perekonomian nasional mencapai Rp104,6 triliun di tahun 2019. Sementara itu, nilai produksi di ekosistem digital Gojek selama tahun 2019 setara dengan 1% PDB nasional Indonesia.
Wakil Kepala Lembaga Demografi Dr. Paksi C.K Walandouw mengemukakan, di tahun 2019 kontribusi mitra Gojek dari 5 layanan (GoRide, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay) ke perekonomian Indonesia mencapai Rp104,6 triliun, meningkat karena kenaikan kontribusi mitra, terutama GoFood dan perluasan ekosistem.