Pasar Modal Memasuki Usia 43 Tahun, Simak Sejarahnya

Sabtu 08 Agustus 2020 12:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 08 278 2258965 pasar-modal-memasuki-usia-43-tahun-simak-sejarahnya-j8vYSh6tLM.jpg BEI (Foto: Okezone.com)

Momentum pertumbuhan pasar modal kembali terjadi saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Desember 1988 (Pakdes 88). Sejumlah deregulasi yang memberikan kemudahan untuk go public dan kebijakan pendukung lain semakin memacu pertumbuhan Pasar Modal Indonesia. Lalu, pada 16 Juni 1989, BES diaktifkan kembali oleh pihak swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. Sementara Bursa Efek Semarang tidak pernah difungsikan lagi.

Pada 13 Juli 1992, BEJ diswastanisasi dan Bapepam berubah fungsi menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Ulang Tahun BEJ yang saat ini menjadi BEI. Sejumlah institusi di Pasar modal Indonesia pada 21 Desember 1993 kemudian mendirikan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Lembaga ini berfungsi sebagai Lembaga rating untuk persyaratan penerbitan surat utang (obligasi). Sejak hadirnya Pefindo, tidak hanya pasar saham yang berkembang, juga pasar surat urang.

Baca Juga: Ingat Jangan 'Jajan' Saham Sembarangan, Ada 19 Emiten yang Dipantau BEI 

Momentum besar dalam sejarah pasar modal terukir saat BEJ meluncurkan JATS (Jakarta Automated Trading System), yaitu sistem otomatisasi perdagangan pada 22 Mei 1995. Sebelumnya order transaksi saham dilakukan secara manual dengan para broker mengisi penawaran jual dan beli saham di papan-papan tulis yang dipasang di lantai bursa. Dengan Komputerisasi JATS, transaksi penawaran dilakukan melalui komputer. Para pialang efek yang bertugas sebagai broker dealer cukup duduk di kursi dan meja yang disediakan di lantai perdagangan bursa dan melakukan aktvitasnya di PC masing-masing. Saat masih manual, para pialang sibuk berlarian bolak balik ke papan-papan transaksi dan mereka tidak bisa duduk tenang seperti ketika JATS berfungsi.

Payung hukum pasar modal Indonesia lahir pada 10 November 1995, dengan kehadiran Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) No.8 tahun 1995, dan mulai efektif berlaku pada 1 Januari 1996. Pada tahun yang sama dengan peluncuran UUPM, BPI melaksanakan merger dengan BES, dan nama BES yang bertahan. Pada 6 Agustus 1996 PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) didirikan, disusul dengan pendirian PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 23 Desember 1997.

Momentum besar berikutnya terjadi pada 21 Juli 2000 ketika sistem perdagangan tanpa warkat (scripless trading) dimulai. Jika sebelumnya lembaran-lembaran saham yang ditransaksikan harus dipindah tangankan secara manual dengan tumpukan lembaran saham yang menggunung di KPEI dan KSEI. Di era scripless semua kepemilikan saham diubah menjadi dalam bentuk elektronik. Tidak ada lagi lembaran-lembaran saham yang dibawa setiap hari dari satu perusahaan efek ke Lembaga penyelesaian transaksi lalu dioper lagi ke perusahaan efek. Ini sungguh sebuah pekerjaan besar ketika itu, dan penghematan yang luar biasa dalam tenaga kerja, penyimpanan saham dan penghematan lembaran kertas saham.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini