Investasi di Tengah Ancaman Resesi Bagai Menanam Sebuah Biji

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 13 Agustus 2020 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 320 2261605 investasi-di-tengah-ancaman-resesi-bagai-menanam-sebuah-biji-yYI79pU4Yb.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Bayang-bayang resesi ekonomi jangan sampai membuat mental menciut. Justru, dalam menghadapi resesi ini, harus berani mengambil risiko untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun.

Seperti diketahui, bayang-bayang resesi sendiri muncul menyusul ekonomi Indonesia yang -5,3% pada kuartal II-2020. Jika pada kuartal III-2020 mendatang masih minus, maka secara resmi ekonomi Indonesia mengalami resesi.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan, dalam situasi pandemi, investasi menjadi salah satu solusi untuk masa depan. Karena pertumbuhannya akan terus naik setiap tahunnya.

Baca Juga: Ekonomi RI di Ambang Resesi, Investasi Apa yang Cuan?

"Di sisi lain anda juga harus bisa memanfaatkan opportunity untuk pertumbuhan jangka panjang," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (12/6/2020).

Menurut Mike, saat ini memang pasar investasi khususnya yang berkaitan dengan pasar saham mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona. Namun yang tidak banyak diketahui, saat seperti inilah yang menjadi momen pas untuk investasi.

Baca Juga: Bantuan Karyawan Rp600.000/Bulan Bisa Tingkatkan Konsumsi?

Bagaimana tidak, harga beli dari jenis investasi pada saat ini berada di titik rendah. Sedangkan setelah pandemi virus corona berakhir, indeksnya secara otomatis akan meningkat.

"Karena adanya resesi menyebabkan pasar investasi mengalami tekanan. Maka di situlah peluang kita mendapatkan atau berinvestasi dengan nilai yang terjangkau," jelasnya.

Mike mengibaratkan investasi pada situasi sulit seperti ini ibarat membeli sebuah biji yang kemudian di tanam. Memang harga belinya sangat murah, namun jika terus ditanam dan disiram oleh air akan terus tumbuh menjadi pohon yang lebih besar.

Hal tersebut berbeda dengan investasi ketika harga sedang tinggi-tingginya. Kejadian ini diibaratkan seperti membeli sebuah pohon besar yang sudah jadi, yang mana jika mengalami pertumbuhan pun relatif kecil.

"Artinya menanam dari biji lagi, tadinya kalau kita beli pohon mangga kan mahal ya beli pohon kan sudah jadi ada buahnya memang kita menanam. Kalau kita menanam dari biji beli satu biji kan murah. Tinggal ditanam. Tapi harus sabar nunggunya. Disiram saja terus nggak dicongkel congkel nggak diambil-ambil. Nah kalau nggak ada krisis kan harganya mahal," kata Mike.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini