Terpukul Pandemi Covid-19, Penumpang Bus AKAP Baru 30%

Feby Novalius, Jurnalis · Minggu 16 Agustus 2020 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 16 320 2262983 terpukul-pandemi-covid-19-penumpang-bus-akap-baru-30-G1WrdK4ajA.jpg Pengusaha Angkutan Darat Terpuruk Akibat Virus Corona. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Angkutan transportasi darat seperti bus sangat terpukul pandemi virus corona. Hal tersebut ditandai dengan penurunan jumlah penumpang selama virus corona meluas.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, beberapa masyarakat umum masih enggan naik bus angkutan umum. Justru masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau bahkan angkutan ilegal dengan plat hitam.

Baca Juga: Operasional Angkutan Barang Dibatasi Selama HUT RI

“Di AKAP yang menjadi maslah, belum kembali masyarakat angkutan umum. Saat ada persyartan khusus itu membuat yang dihindari sehingga ada perlaihan kendaraan pribadi,” ujarnya dalam sebuah diskusi, Minggu (16/8/2020).

Sementara itu, pemilik PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali mengatakan, sektor transportasi darat sangat terpukul berat akibat pandemi Covid-19. Sebagai salah satu contohnya untuk bus antarkota antarprovinsi (AKAP), volume penumpang baru sekitar 25%-30% dari kondisi normal. 

Baca Juga: Covid-19 Bikin 33,97% Warga Jabodetabek Tinggalkan Transportasi Umum

“Sekarang saja PHK sudah 50% apalagi kalau kondisinya seperti ini terus. Dan untuk divisi di saya yang wisata juga sama sekali tidak jalan," kata Steven.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) mengatakan, ada sekitar 1.200 perusahaan angkutan pariwisata yang mengoperasikan hampir belasan ribu kendaraan. Dari jumlah tersebut,saat ini sekitar 90% dari total armada bus pariwisata tak beroperasi karena tak ada permintaan.

“Dan akhir-akhir ini pandemi tidak menyusut malah bertambah mengakibatkan kami semakin terpuruk terjadi PHK di bidang angkutan wisata," kata Yuli.

Dengan minimnya jumlah armada yang beroperasi, lanjut Yuli, para operator angkutan pariwisata terancam gagal bayar cicilan kendaraan. Karena itu, pihaknya memohon kepada pemerintah untuk mengeluarkan perpanjangan kebijakan relaksasi cicilan kendaraan.

“Kalau kemarin mendapatkan relaksasi penangguhan pembayaran cicilan selama 6 bulan dari Maret hingga September dan Oktober. Ini mudah-mudahan bisa menyuarakan kepada pemerintah lagi. Kami menginginkan stimulus sama dengan angkutan lainnya," kata Yuli. (feb)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini