Negara Tujuan Ekspor RI Resesi, Bagaimana Pak Mendag?

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 24 Agustus 2020 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 320 2266395 negara-tujuan-ekspor-ri-resesi-bagaimana-pak-mendag-ZlA5MLerHq.jpg Ekspor-Impor di Pelabuhan. (Foto: Okezone.com/Pelindo I)

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat banyak negara tujuan ekspor Indonesia yang telah memasuki masa resesi ekonomi. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Negara tujuan ekspor tersebut di antaranya Jepang, Singapura, Filipina, Hongkong, Jerman, Italia, Spanyol, Arab Saudi, Inggris, Belgia, dan Prancis.

Baca Juga: 7 Komoditas Potensi Ekspor, dari Lada hingga Vanili

Meski demikian, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2020 masih mencatatkan peningkatan ke beberapa pasar utama seperti China naik 11,8%, Australia 9,8%, Pakistan 5,9%, dan Amerika Serikat 1,5%.

Produk ekspor yang meningkat secara signifikan ke China adalah paduan ferro nikel, besi tahan karat, dan tembaga. Ke Australia adalah amonium nitrat, emas, dan mentega kakao, ke Pakistan adalah minyak sawit olahan, serat stapel buatan, dan batu bara. Dan ke Amerika Serikat adalah portable receiver, udang, dan minyak sawit olahan.

Baca Juga: Emas Penyumbang Ekspor Paling Tinggi Selama Juli 2020

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, baik pada Juli 2020 maupun secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 surplus USD3,3 miliar, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Juni 2020 yang surplus USD1,2 miliar.

“Peningkatan tersebut didorong perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit,” jelas Mendag, dalam keterangannya, Senin (24/8/2020).

Secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 surplus USD 8,7 miliar. Capaian pada semester pertama 2020 lebih baik dari periode yang sama tahun 2019 yang mengalami defisit USD 2,2 miliar.

“Perbaikan neraca perdagangan ini dikarenakan terjadinya penurunan impor yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspornya,” tandasnya.

Melihat kinerja perdagangan Indonesia, Mendag melihat penguatan rantai nilai domestik dimana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersedian produk-produk di dalam negeri.

"Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Agus Suparmanto. (feb)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini