Share

Usaha Jam Tangan, Begini Jatuh Bangun Tanamkan Kepercayaan Konsumen

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 25 Agustus 2020 17:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 25 320 2267298 usaha-jam-tangan-begini-jatuh-bangun-tanamkan-kepercayaan-konsumen-1G0cihJGVz.jpg Jam Tangan Lakanua Berasal dari Tugas Kuliah. (Foto: Okezone.com/Lakanua)

JAKARTA - Membuka bisnis jam tangan tentu sudah biasa. Tapi yang satu ini beda, karena material yang digunakan untuk produknya sangat unik, seperti semen hingga batu alam untuk sebuah jam tangan.

Founder Brand Jam Tangan Lakanua Restu Irwansyah Setiawan mengatakan, membuat jam tangan dengan material unik ada banyak kendala. Pertama, dari sisi teknis pembuatannya.

Saat pertama kali membuat jam tangan dengan bahan semen, sempat beberapa kali mengalami kerusakan produk. Sebab, ada beberapa kesalahan dalam campuran bahan bakunya.

Baca Juga: Dari Tugas Kuliah, Pria Ini Justru Geluti Bisnis Jam dari Kayu hingga Semen

"Kalau kendala teknis sebetulnya banyak banget waktu itu pas pertama-pertama itu jam kita itu permasalahanya mengelupas jadi rusak. Karena waktu itu kita masih pakai campurannya biasa saja seperti semen, air, coran. Seperti itulah. Ternyata air itu sendirilah yang membuat semen bermasalah, jam menjadi enggak kuat dalam satu minggu pecah, dalam pengeringan pecah," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (25/8/2020).

Kemudian dalam menemukan ramuan yang tepat membutuhkan waktu cukup lama. Di mana setelah beberapa kali percobaan, akhirnya menemukan resepyang tepat. Barulah jam bisa dijual ke pasaran.

"Sampai akhirnya kita ketemu ramuannya. Itupun sebenarnya cukup lama satu sampai dua tahunan dalam mencari formula yang tepat hingga sampai saat ini. Jadi teknisnya sebenarnya pertama itu dari campuran semen itu pas dibikin kecil itu susah, memang resepnya tadi yang menjadi susah," jelasnya.

Jam Tangan Lakanua

Tak hanya dari pembuatannya saja, soal penjualannya bukan pekerjaan mudah. Karena orang-orang masih belum mengetahui mengenai soal produk jam tangan ini.

"Sebenarnya perjuangannya panjang ini cukup lama dua tahun sampai tiga tahunan. Karena memang orang itu enggak ada rasa trust-nya apalagi brand baru, material baru, itu pun kepercayaannya enggak ada," jelas Restu.

Baca Juga: Inspiratif, Penyandang Disabilitas Buat Berbagai Kerajinan Bahan Bambu

Restu menambahkan, untuk membangun kepercayaan pelanggan untuk membeli produk ini butuh waktu dua hingga tiga tahun. Setelah itu, barulah mulai terlihat pasarnya karena mulai banyak yang membeli produknya.

"Membangunnya dua sampai tiga tahun mungkin orang-orang itu enggak mau mencoba. Hanya satu dua pembeli. Kan kalau sekarang pembelian sudah terpola. Berbeda dengan waktu awal, itu kayak enggak jalan saja," jelasnya.

Restu pun mengaku sempat beberapa kali merasa cemas akan kelanjutan bisnisnya. Namun dirinya bersama dengan temannya selalu meyakinkan bahwa produknya bisa dikenal banyak orang.

"Rasa ketakutan itu normal banget, kayanya produk kita enggak akan laku. Ternyata bukan itu, karena butuh waktu sama konsistensi," kata Restu.

Sebagai informasi,  pembuatan jam tangan Lakanua terinspirasi dari tugas kuliah Restu dan temannya. Ketika itu dirinya sedang melakukan eksplorasi material produk dalam jurusan desain produk.
"Jadi awal mulanya dari kuliah karena kita kebetulan jurusannya desain produk, jadi sudah ada basic ilmunya di eksplorasi material dan produk gitu," ujarnya.
Kemudian ide membuat jam pun muncul pada 2008-2012. Ketika itu, tren jam tangan terbuat dari kayu.
Melihat tren tersebut, Restu bersama dengan temannya melihat ada peluang bisnisnya. "Dari situlah kurang lebih klop nih pasarnya," kata Restu.
Restu mulai membuat jam tangan kayu. Dirinya memutar otak supaya jam tangan yang dikembangkan berbeda dengan produk yang tren saat itu.

Sebagai informasi,  pembuatan jam tangan Lakanua terinspirasi dari tugas kuliah Restu dan temannya. Ketika itu dirinya sedang melakukan eksplorasi material produk dalam jurusan desain produk.

"Jadi awal mulanya dari kuliah karena kita kebetulan jurusannya desain produk, jadi sudah ada basic ilmunya di eksplorasi material dan produk gitu," ujarnya.

Kemudian ide membuat jam pun muncul pada 2008-2012. Ketika itu, tren jam tangan terbuat dari kayu.
Melihat tren tersebut, Restu bersama dengan temannya melihat ada peluang bisnisnya. "Dari situlah kurang lebih klop nih pasarnya," kata Restu.

Restu mulai membuat jam tangan kayu. Dirinya memutar otak supaya jam tangan yang dikembangkan berbeda dengan produk yang tren saat itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini