Harga Masih Tinggi, Emas Masih Jadi Primadona Investor?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2020 10:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 27 320 2268203 harga-masih-tinggi-emas-masih-jadi-primadona-investor-uePk8XLM6d.jpeg Harga emas (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Harga emas dunia diperkirakan masih akan terus mengkilap hingga akhir tahun nanti. Bahkan diperkirakan, harga emas masih akan mencetak rekor di angka USD2.100 per troy ons atau sekitar Rp30,8 juta per troy ons hingga akhir tahun nanti.

Pimpinan Cabang PT Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta Dikki Soetopo mengatakan berita lonjakan harga emas turut mengedukasi masyarakat bahwa ada alternatif investasi logam mulai dalam bentuk kontrak berjangka. Investasi ini berpeluang lebih menguntungkan dengan syarat manajemen risiko yang terjaga.

Baca Juga: Harga Emas Turun karena Optimisme Perdagangan AS-China

Apalagi di tengah situasi pandemi yang membuat kondisi perekonomian global masih diselimuti ketidakpastian. Emas sebagai investasi yang aman bisa menjadi alternatif.

"Di tengah situasi pandemi, peluang investasi menjadi sangat menarik karena sifatnya yang safe heaven. Artinya memiliki nilai yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi yang diakibatkan berbagai faktor," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual, dikutip Kamis (27/8/2020).

Menurut Dikki, ekspektasi harga jual yang masih akan mencetak rekor ini dikarenakan adanya ketidakpastian pada ekonomi global. Belum lagi, sejumlah negara juga banyak yang mengalami resesi ekonomi sehingga berimbas kepada harga emas.

 

Selain itu, ekspektasi ini juga didukung dengan rendahnya tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) yang mencapai 0,25%. Selain memang adanya kebijakan bank sentral Amerika Serikat untuk menggelontorkan stimulus fiskal dengan program aset.

Ditambah lagi, aksi para pelaku pasar terhadap kenaikan harga emas juga masih berlanjut. Salah satu contohnya adalah aksi Warren Buffet yang memborong emas menjadi sinyal bahwa perburuan terhadap aset safe heaven belum usai.

"Alasan fundamental yang memperkuat hal ini adalah ketidakpastian ekonomi global dan resesi yang meluas ke banyak negara. Meski optimisme terhadap vaksin covid-19 cukup tinggi, namun ekspektasi investor terhadap pemulihan ekonomi belum menyeluruh," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini