Ini Alasan Kenapa Bisnis Makanan Jauh Lebih Menguntungkan

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2020 17:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 27 455 2268491 ini-alasan-kenapa-bisnis-makanan-jauh-lebih-menguntungkan-ZFH7Mp5qjt.jpg Usaha Makanan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Membuka usaha menjadi keinginan hampir sebagian besar orang. Karena dengan membuka usaha, akan ada dana tambahan yang didapatkan oleh orang tersebut. Adapun jenis usaha yang paling banyak dipilih adalah kuliner dan fashion. Tapi, mana sih sebenarnya yang lebih menguntungkan antara membuka usaha makanan dan fashion?

Owner dari Bigcheese.id Hestria Maulindira mengatakan, jika ingin mendapatkan untung besar, usaha makanan memang jauh lebih cuan. Karena dengan membuka usaha makanan, orang tersebut bisa mengambil keuntungan besar tanpa membuat harganya menjadi tidak masuk akal.

Hal tersebut berbanding terbalik jika ingin mengambil usaha konveksi atau fashion. Jika ingin mengambil margin keuntungan yang besar, harga jualnya justru terlalu mahal.

"Memang kalau mau untung besar itu di bisnis makanan. Karena kita bisa mengambil untung besar. Karena aku sudah pernah menghitung, saya sudah sempat mau konveksi kan baju sempat ingin kaya menaikkan keuntungannya. Agak susah jatuhnya harganya mahal banget," ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (27/8/2020).

Baca Juga: Menggiurkan, Buka Usaha Dessert Box Bisa Cuan Rp8 Juta/Bulan 

Sebagai salah satu contohnya, ada satu buah produk makanan yang dijual dengan harga Rp5.000. Jika makanan tersebut dijual dengan harga Rp10.000 pun masih masuk akal dan akan ada banyak yang membeli.

Jika satu makanan tersebut dijual dengan harga Rp10.000, artinya, satu produk mengambil margin keuntungan 100%. Hal tersebut tidak bisa dilakukan jika membuka usaha fashion atau konveksi.

Sebagai salah satu ilustrasi, untuk membuat satu buah baju dengan kualitas terbaik harganya Rp80.000. Maka jika ingin mengambil margin keuntungan 100%, harga jual baju tersebut adalah Rp160.000 per pcs.

"Kalau jualan, makanan naikinnya kayak minimal 50% tuh bisa keuntungannya. Mau 100% juga bisa. Kayak misalnya modal bahannya Rp5.000 mau dijual Rp10.000 masih bisa. Kalau aku jual Rp10.000 kan aku ngambilnya 100%," jelasnya.

Namun menurut Hestria, dalam mengambil margin keuntungan juga harus melihat pasar dan letak geografis daerah. Karena jika tidak tepat sasaran, niat hati ingin mengambil untung besar justru berakibat buntung karena produknya tidak laku.

"Jadi tetap saja balikin keuntungannya berapa persen sih. Tapi aku biasanya kalau sekarang kan ada beberapa varian. Jadi enggak aku pukul rata, enggak semua 50% ada yang 40% jadi saling menutup saja, biar harganya masih bisa standar, aku juga menyesuaikan daerah," kata Hestria.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini