Strategi Membuka Bisnis Baru saat Jakarta PSBB Lagi

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 22:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 455 2278096 strategi-membuka-bisnis-baru-saat-jakarta-psbb-lagi-fMK7nMJpXl.jpg Inspirasi Bisnis (Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut berlaku mulai senin kemarin.

Dengan kebijakan PSBB ini, ekonomi Indonesia ancaman resesi berada di depan mata. Pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia -5,3% yang artinya jika pada triwulan ketiga ini kembali minus, maka secara automatis mengalami resesi.

 Baca juga: Lagi Pandemi Covid-19, Usaha Mahar Pernikahan Justru Ramai Dicari Calon Pengantin

Di tengah ancaman resesi dan kebijakan PSBB ini, sebagian orang berencana untuk membuka usaha baru. Tujuannha untuk mendapatka penghasilan tambahan di tengah kondisi ketidakpastian.

Lantas amankah jika membuka usaha di saat ekonomi berada di ambang resesi, Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, membuka usaha baru bisa menjadi pilihan bagi masyarakat dalam menghadapi ketidapastian ini.

 Baca juga: Kisah Mantan TKI Dirikan Bisnis Kuliner akibat Covid-19

Apalagi bagi beberapa orang yang keuangan dan pekerjaannya terganggu seperti terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga pemotongan gaji. Namun harus diperhatikan dengan hati-hati karena berbisnis merupakan salah satu instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Bahkan menurutnya, dalam situasi normal sekalipun, bisnis memiliki risiko yang cukup tinggi. Oleh karenanya, dalam membuka bisnis juga perlu perencanaan yang matang.

"Sebenarnya kalau kayak berbisnis itu kan bisa dikategorikan sebagai investasi yang risikonya tinggi ya jadi bahkan sebenarnya dalam keadaan normal pun resikonya tetap tinggi," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (15/9/2020).

 Baca juga: Roti Kekinian Korean Garlic Cheese Bread Datangkan Omzet Puluhan Juta

Menurut Andi, agar risiko bisa diminimalisir, perlu diatur dan direncanakan secara matang, sehingga niat hati ingin untung tidak berakhir buntung.

Menurut Andi, salah satu cara untuk memanage risiko adalah dengan tidak menggelontorkan semua uang untuk keperluan bisnis. Karena jika sewaktu-waktu bisnis tidak berjalan sesuai rencana akan sangat merugikan.

"Jadi paling enggak pertama apakah resikonya tinggi ya pasti tinggi. Cuma yang bisa kita lakukan adalah manage dulu nih misalnya kita mau masuk ke bisnis itu jangan uang yang kita miliki kita gelontorkan ke situ semua," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini