JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat. Pemicu Wall Street anjlok karena kekhawatiran memburuknya pandemi virus corona atau Covid-19 serta ketidakpastiaan stimulus fiskal AS.
Negosiasi untuk RUU stimulus virus Covid-19 sangat rumit setelah pengesahan Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg yang dapat mengarah pada proses pencalonan yang pahit menjelang pemilihan. Presiden Donald Trump mengatakan dia akan mencalonkan seseorang minggu ini untuk mengambil kursi Ginsburg. Partai Republik dan Demokrat berada di jalan buntu sejak Juli soal RUU ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 509,72 poin atau 1,8% menjadi ditutup ke level 27.147,70. Indeks S&P 500 turun 1,2% menjadi 3.281,06 dan indeks Nasdaq Composite ditutup 0,1% ke 10.778,80 setelah lonjakan saham teknologi di akhir perdagangan. Pada satu titik, Dow telah turun lebih dari 900 poin dan S&P 500 turun sebanyak 2,7%. Demikian seperti dilansir CNBC, Jakarta, Selasa (22/9/2020).
Baca Juga: Wall Street Ditutup Lesu Usai Pertemuan The Fed
Pelemahan bursa saham AS pada perdagangan Senin menandai pertama kalinya sejak Februari indeks S&P 500 membukukan empat kerugian harian berturut-turut. Sementara indeks Dow mengalami hari terburuk sejak 8 September, ketika turun 2,3%.
Penurunan ini menambah kesuraman Wall Street sepanjang bulan September. Indeks S&P 500 turun lebih dari 6% pada bulan September dan indeks Dow telah kehilangan 4,5% serta Nasdaq Composite telah jatuh 8,5% bulan ini.

Kekhawatiran atas kenaikan kasus virus corona menekan Wall Street setelah Inggris dilaporkan mempertimbangkan lockdown untuk menghentikan peningkatan infeksi.
Ilmuwan terkemuka pemerintah Inggris mengatakan bahwa tanpa tindakan lebih lanjut, tingkat infeksi negara itu bisa mencapai 50.000 kasus per hari.
Di Wall Street, saham yang akan terpukul paling parah dari kebijakan lockdown adalah saham Carnival Corp turun 6,7%. Southwest Airlines dan Delta Air Lines masing-masing turun 5,8% dan 9,2%.
“Ini adalah masalah kesehatan dan kami masih belum membuat kemajuan apa pun,” kata Brad Kinkelaar, manajer portofolio global di Barrow Hanley.
“Kami masih belum memiliki vaksin yang jelas, masih belum ada obatnya dan kami masih mencari cara untuk mengatasi krisis ini,"
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.