Erick Thohir dan Bahlil Bakal Terbang ke Korsel, Ngapain?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 22 September 2020 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 22 320 2281963 erick-thohir-dan-bahlil-bakal-terbang-ke-korsel-ngapain-JCpujcKsDA.jpg Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia akan terbang ke Korea Selatan. Dalam kunjungan kerja itu, Erick dan Bahlil akan menyepakati kerja sama tentang pembangunan pabrik baterai lithium (electric vehicle/EV battery) di Indonesia.

Hal itu disampaikan Bahlil dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi VI DPR pada Selasa (22/9/2020). Dalam kesempatan itu, Bahlil menjelaskan, kerja sama itu untuk mendorong investasi dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

 Baca Juga: RI Punya Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik, Ini Penampakannya

Bahkan, dia mengklaim, pembangunan pabrik baterai lithium di Indonesia ini akan menjadi proyek terbesar di dunia. Di mana, pemerintah menyiapkan 100 hektare lahan di Batam yang digunakan sebagai lokasi pabrik.

"Ini investasinya besar dan ini terbesar di dunia dan itu lokasinya adalah di Batam, 100 hektare. Jadi, saya besok (Rabu) dengan Pak Erick ke Korea Selatan untuk menyelesaikan persoalan hilirisasi EV battery ini," ujar Bahlil.

 Baca Juga: Perlahan, Pemilik Perusahaan Mobil Listrik Asal China Ini Jadi Miliarder Baru

Dalam kunjungan ke Korsel, mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) itu juga menyebut, dia bersama Menteri Erick akan bertemu dengan sejumlah investor asal perusahan setempat. Meski begitu, dia tidak menyebut perusahaan mana yang dia maksudkan.

"Bahkan ada beberapa perusahaan Korea juga. Dalam kunjungan kami dengan Pak Erick akan meng-clear-kan ini, sedikit lagi," ujar dia.

Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang melimpah, khususnya nikel diyakini mampu menghasilkan baterai yang berkualitas tinggi. Bahkan, Bahlil mencatat setidaknya 20% baterai di dunia berasal dari Indonesia.

Karena itu, pihaknya berambisi untuk terus meningkatkan bisnis tersebut hingga menjadikan Indonesia sebagai produsen besar di dunia. Langkah itu dilakukan dengan meningkatkan penggunaan nikel sebesar 85 persen untuk memenuhi pasokan baterai. Saat ini, kata dia, produksi nikel cenderung dijual dalam bentuk mentah yang bernilai rendah.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini