Jangan Kalap Belanja Online, Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 27 September 2020 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 622 2283915 jangan-kalap-belanja-online-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan-RTkF81pOxv.jpg Mengelola Keuangan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Belanja online bisa menjadi salah satu sarana untuk mempermudah aktivitas masyarakat untuk belanja. Namun di sisi lain, e-commerce juga bisa menjadi pedang bermata dua yang justru bisa berakibat buruk pada keuangan.

Financial Educator Lifepal Aulia Akbar mengatakan, e-commerce bisa menjadi tantangan yang cukup berat bagi isi dompet. Bagaimana tidak, ketika adanya pandemi virus corona (covid-19) dan adanya kebijakan Work From Home (WFH), situs jual beli online banyak menawarkan promo diskon atau gratis ongkos kirim.

"E-commerce itu menjadi sarana mempermudah untuk belanja, tapi di sisi lain, pedang bermata dua juga, banyak cashback, banyak promo, alhasil kita banyak spending di situ. Ketika sudah kalap sudah enggak ada tabungan," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual belum lama ini, Minggu (27/9/2020)

Akbar pun mengingatkan kepada para mahasiswa atau generasi muda untuk tidak kalap ketika belanja di e-commerce. Menurutnya, jika ingin belanja harus sesuai kebutuhannya dan bukan keinginan.

"Buat mahasiswa pastinya sekarang e-commerce tuh banyak ya. Jangan kalap belanja. Bedakan yang namanya kebutuhan sama keinginan," jelasnya.

Hal pertama yang harus dipelajari adalah cara membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Karena antara kebutuhan dan keinginan sangat berbeda tipis dan sering tertukar.

Sebagai ilustrasi, ketika sepatu yang dimiliki sudah rusak. Maka membeli sepatu baru adalah menjadi sebuah kebutuhan karena penting untuk dipakai sebagai penunjang kerja atau aktivitas lainnya.

"Sepatunya rusak ya butuh beli alas kaki. Sekarang kalau kita lihat alas kaki harganya berapa sih? Mungkin ada yang Rp200.000 ada yang Rp300.000. Atau mungkin yang lebih murah dari Rp200.000 juga ada ya pastinya ada juga. Fungsinya kan apa? untuk sebagai alas kaki," kata Akbar.

Namun ketika sepatu yang dibeli memiliki harga yang fantastis seperti Rp5 juta, maka sudah menjadi keinginan. Karena secara fungsi tidak terlalu membutuhkan sepatu dengan harga mahal, sedangkan kegunaannya sama-sama untuk alas kaki.

"Lalu sekarang beli alas kakinya sampai Rp2 juta sampai Rp5 juta, itu tandanya bukan kebutuhan lagi. Itu namanya keinginan. Karena menabung uang Rp2 juta mungkin buat teman-teman yang masih mahasiswa susah gitu ya. Kecuali dikasih uangnya sama orangtuanya gede," kata Akbar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini