Mau Investasi Sekaligus Bantu Negara Atasi Resesi? Begini Caranya

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 01 Oktober 2020 12:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 622 2286668 mau-investasi-sekaligus-bantu-negara-atasi-resesi-begini-caranya-cVj8NJrpOu.jpg Investasi Obligasi Ritel Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan resmi meluncurkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI018 secara online. Adapun tingkat kupon yang ditawarkan adalah penghasilan tetap sebesar 5,7% per tahun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, ada dua keuntungan yang bisa didapat oleh masyarakat jika membeli ORI018. Karena selain bisa mendapatkan keuntungan dari investasi juga bisa membantu negara membangun negeri.

Baca Juga: Investasi ORI018, Bisa Buat Dana Darurat Jelang Resesi

Apalagi, saat ini Indonesia sangat membutuhkan dana untuk penanganan covid-19. Mengingat, hampir semua sektor pendorong perekonomian Indonesia terkena dampak dari pandemi virus corona (covid-19).

"Investor tidak hanya investasi tapi juga membangun negeri, karena hasilnya untuk membiayai APBN. Ini keunggulan yang tidak dimiliki instrumen lain, bagaimana investasi sekaligus membangun negeri, menangani covid-19 dan membangun perekonomian akibat pandemi," ujarnya dalam acara launching ORI018 secara virtual, Kamis (1/10/2020).

Menurut Luky, kondisi pandemi virus corona ini tidak pernah diperkirakan oleh pemerintah sebelumnya. Apalagi dampaknya cukup besar karena tidak hanya membuat krisis kesehatan saja tapi juga sudah merambah ke sosial ekonomi.

Baca Juga: Milenial Kian Minati Investasi Surat Utang Negara

"Awalnya berangkat dari krisis di sektor kesehatan tapi telah berdampak kepada aspek sosial, kehidupan ekonomi masyarakat. Jadi sebelum obat vaksin dari Covid-19 belum ditemukan, maka untuk itu pemerintah melakukan berbagai strategi seperti PSBB, lockdown, social distancing, dan berimplikasi cukup terasa di masyarakat. Di sini dibutuhkan kehadiran pemerintah," jelasnya.

Menurut Luky, agar perekonomian bisa tetap berjalan di tengah pandemi ini, pemerintah membutuhkan dana yang cukup besar. Namun sayangnya, kebutuhan yang besar, tidak diimbangi oleh penerimaan yang besar pula.

Hal tersebut cukup wajar karena sektor ekonomi terkena dampak pandemi sehingga penerimaan perpajakan pun berkurang. Sehingga, jika tak mencari pembiayaan baru, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini akan membengkak hingga 6,34%.

"Tahun ini defisit APBN kita akan mencapai 6,34% dan itu membutuhkan pembiayaan, jadi tugas kita berikutnya adalah bagaimana mencari pembiayaan tersebut. Di sinilah tugas kita di Kementerian Keuangan salah satunya mencoba melakukan inovasi bagaimana mencari sumber pembiayaan tersebut," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini