Cadangan Devisa Turun Jadi USD135 Miliar, Aman saat Resesi?

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 10:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 320 2289696 cadangan-devisa-turun-jadi-usd135-miliar-aman-saat-resesi-3Sc5oUFepw.jpg Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2020 turun menjadi sebesar USD135,2 miliar. Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai cadangan devisa ini belum bisa menopang ekonomi Indonesia saat resesi.

Hal ini masih ditopang oleh penerbitan utang pemerintah. Cara ini tidak bisa diharapkan jadi satu satunya amunisi untuk menstabilkan perekonomian.

"Ketika minat investor asing menurun karena faktor tekanan eksternal maupun prospek pemulihan domestik yang lambat maka akan terjadi risiko capital outflow," kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Rabu (7/10/2020)

Baca Juga: Bayar Utang, Cadangan Devisa RI Turun USD1,8 Miliar 

Dia melanjutkan risiko juga muncul berkaitan dengan momen ketika pemerintah harus menyediakan valas untuk pembayaran kewajiban cicilan pokok dan bunga utang yang jatuh tempo.

"Artinya cadev saat ini bersifat semu, dan berbahaya bagi keberlanjutan stabilitas keuangan dan nilai tukar Rupiah," tandasnya.

Sebagai informasi, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Direktur Eksekutif Komunikasi BI Onny Widjarnako.

Penurunan cadangan devisa pada September 2020 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi," bebernya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini