Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

3 Bank Syariah BUMN Merger, Berapa Asetnya?

Suparjo Ramalan , Jurnalis-Selasa, 13 Oktober 2020 |11:59 WIB
3 Bank Syariah BUMN Merger, Berapa Asetnya?
Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Mendekati pengunguman merger atau penggabungan usaha tiga bank syariah, Menteri BUMN Erick Thohir kembali menyebut bahwa sistem yang adil dan transparan di Indonesia membuat ketiga bank syariah mampu bertahan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Bahkan, dengan sistem tersebut ketiga bank syariah yang terdiri dari PT Bank BNI Syariah, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri mampu menorehkan kinerja yang positif.

"Kita semua tentu berharap agar bank syariah ini semakin mendekati satu tujuan ekonomi syariah yaitu keadilan untuk umat. Sistem keadilan dan transparan sudah membuat bank-bank syariah bertahan di tengah krisis pandemi Covid-19," ujar Erick dalam sebuah tayangan video, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Baca Juga: Erick Thohir: Merger Bank Syariah BUMN Jadi Tonggak Sejarah

Dari segi aset, tercatat ada tiga bank syariah anak usaha bank BUMN dan satu masih berupa unit usaha syariah (UUS). Hingga Juni 2020, keempatnya memiliki total aset sebesar Rp245,87 triliun. Jika merger berhasil dilakukan maka akan tercipta satu bank syariah besar yang dipunyai Indonesia.

PT Bank Syariah Mandiri memiliki aset sebesar Rp114,4 triliun pada Juni 2020 atau meningkat 13,26% dibandingkan periode sama tahun lalu. Kemudian disusul dengan BNI Syariah dengan aset Rp50,78 triliun atau tumbuh 17,8% yoy. Sementara BRI Syariah tumbuh 34,7% yoy sebesar Rp49,6 triliun. Adapun aset UUS BTN Rp31,09 triliun atau tumbuh 6,5% yoy.

Baca Juga: BI Sempurnakan Aturan Penyangga Likuiditas untuk Bank Syariah, Apa yang Baru?

Dari segi kinerja perbankan syariah BUMN, Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari mengatakan, Mandiri Syariah mampu mencatat laba bersih Rp957 miliar atau tumbuh 26,58% hingga akhir Agustus 2020. Selain itu sejumlah indikator bisnis utama perseroan seperti penyaluran pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan.

Peningkatan laba bersih dan pembiayaan Mandiri Syariah ditopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,17% secara year on year (yoy) menjadi Rp99,12 triliun per Agustus. Sementara itu, rasio non performing finance (NPF) perseroan berhasil ditekan 0,27% secara yoy menjadi 2,51% di periode yang sama.

Mandiri Syariah juga berhasil meningkatkan pembiayaan hingga 6,18 perse yoy menjadi Rp76,66 triliun di periode yang sama. Di mana pembiayaan segmen ritel tumbuh 12,52% menjadi Rp48,55 triliun seiring strategi fokus yang ditetapkan.

“Hingga 31 Agustus 2020 juga restrukturisasi pembiayaan yang dilakukan Mandiri Syariah sudah mencakup 29 ribu nasabah dengan outstanding Rp7,1 triliun. Kami juga berhasil melakukan efisiensi dan bisa dilihat dari meningkatnya rasio dana murah atau CASA Mandiri Syariah per Agustus mencapai 59% dari total pendanaan,” ujar Toni.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement