Sri Mulyani ke Wisudawan STAN: Jangan Arogan dan Tinggi Hati

Aditya Pratama, Jurnalis · Rabu 14 Oktober 2020 12:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 14 320 2293412 sri-mulyani-ke-wisudawan-stan-jangan-arogan-dan-tinggi-hati-EkmFXyCeaX.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pesan kepada lulusan Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN Tahun Akademik 2019-2020, untuk tidak berpuas diri, sekalipun menjadi wisudawan terbaik. Dari 3.231 wisudawan, sekitar 70% lulus dengan predikat pujian.

Dirinya pun kagum dengan torehan dan jarang ditemukan di kampus mana pun. Dia berharap agar lulusan PKN STAN bisa menjaga predikat ini pada saat di dunia kerja dan jangan membuat hal itu menjadi jumawa dan tinggi hati.

Baca Juga: Sri Mulyani Minta Pejabat Lelang Negara Dengar Suara Maryarakat

"Namun, jangan kalian jumawa, jangan arogan, jangan tinggi hati dan jangan sombong. Mungkin hari ini kita ada di tempat terbaik, tapi coba kita pergi keliling dunia maka kita tahu bahwa Indonesia masih butuh dibangun dan membutuhkan pemikiran, dedikasi, skill anda yang luar biasa untuk kita bisa jadi bangsa yang maju," ujar Sri Mulyani dalam pidato upacara wisuda lulusan Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN Tahun Akademik 2019/2020 secara virtual, Rabu (14/10/2020).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan, para wisudawan akan masuk dalam tantangan selanjutnya setelah lulus, di mana para lulusan PKN STAN akan dituntut menggunakan ilmu yang sudah dipelajari seperti tata peradaban, etika dan sopan santun.

Baca Juga: Sulitnya Negara Tagih Utang hingga Diancam Pembunuhan

"Selalu tahu dan pahamlah untuk bersyukur dan berterima kasih karena itu adalah sikap soft skill yang sangat penting bagi anda untuk bisa menjalani kehidupan di dalam dunia kerja. Banyak orang IPK tinggi namun dia tidak sukses karena dia tidak memiliki soft skill yang baik," kata dia.

Sri Mulyani juga menyebut banyak wisudawan PKN STAN yang setelah lulus mendapatkan predikat terbaik tetapi kemudian tergelincir atau tidak sukses karena dia berhenti hanya menjadi wisudawan terbaik dan tidak kemudian belajar serta terus menimba ilmu.

"Dia tidak mempertajam berbagai skill atau keterampilan lain agar dia mampu bisa terus memberikan yang terbaik," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini