Krisis 1998 tapi UMP Naik hingga 16%, Kenapa Tahun Ini Tidak?

Ferdi Rantung, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2020 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 320 2297190 krisis-1998-tapi-ump-naik-hingga-16-kenapa-tahun-ini-tidak-Nr5T767LKT.jpg Serikat Pekerja Tolak Jika UMP 2021 Tidak Naik. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta upah minimum provinsi (UMP) tahun depan naik 8%. Ada dua alasan meminta kenaikan upah tersebut.

Ketua KSPI Said Iqbal mengatakan, rincian angka 8% karena melihat kenaikan upah selama 3 tahun berturut-turut. Hal itu membandingkan krisis ekonomi pada 1998, di mana pertumbuhan ekonomi kita itu minus sekitar 17,6%. Pada kondisi seperti itu, upah minimum DKI Jakarta tetap naik, bahkan angkanya mencapai 16%.

Baca Juga: UMP 2021 Tak Naik, saatnya Atur Ulang Pengeluaran

"Kami meminta kenaikam UMP sebesar 8%. Hanya ada dua alasan. Pertama, jauh sebelum sekarang ini terjadi Covid-19. 1998 pun terjadi resesi ekonomi tapi upah masih bisa naik," ujar Said dalam diskusi virtual, Rabu (21/10/2020).

Dia melanjutkan, kenaikan upah ini agar meningkatkan daya beli masyarakat harus dijaga agar mampu menjadi mesin pendorong ekonomi, di saat pemerintah tak bisa berharap banyak dari investasi, ekspor dan sebagainya.

Baca Juga: Pengusaha Pastikan UMP 2021 Tak Naik

"Tinggal konsumsi, konsumsi yang bisa dijaga untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, agar tidak makin resesi dalam adalah dengan cara menjaga daya beli, purchasing power. Upah adalah salah satu instrumennya," tandasnya

Sebelumnya, Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang menilai, berdasarkan data pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun 2020, maka kenaikan Upah Minimum Propinsi (UMP) 2021 diperkirakan 0%.

Mantan anggota Dewan Pengupahan 2010-2019 itu menyebut hal itu sesuatu yang wajar karena pandemi Covid-19 telah memukul dunia usaha, di mana banyak UKM yang tutup, terjadi PHK dan pekerja di rumahkan. Dari sisi cash flow para pengusaha juga semakin mengkawatirkan dan akhirnya daya beli masyarakat menurun.

"Kondisi dunia usaha saat ini sangat tidak memungkinkan UMP dinaikkan. Beban pengusaha sudah sangat berat, mampu bertahan selama pandemi ini saja sudah bersyukur. Jika UMP dinaikkan akan sangat memukul pengusaha dan mendorong pengusaha semakin terpuruk," bebernya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini