Cadangan Migas Pertamina Habis 7 Tahun Lagi

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 22 Oktober 2020 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 22 320 2297856 cadangan-migas-pertamina-habis-7-tahun-lagi-hzjFxWSq7e.jpg Cadangan Migas Pertamina Hilang Dalam Waktu 7 Tahun. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mencatat resource to production ratio minyak dan gas bumi (Migas) perseroan hanya berusia tujuh tahun. Bila tidak ada upaya strategis, maka cadangan migas Pertamina akan habis dalam jangka waktu tersebut.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, ada sejumlah opsi yang harus dilakukan meningkatkan produksi perusahaan. Opsi tersebut melakukan akuisisi aset perusahaan migas yang memiliki cadangan migas besar dan upaya menemukan cadangan migas baru.

Baca Juga: Cadangan Minyak RI 9 Tahun Lagi Habis

"Karena resource to production ratio Pertamina hari ini adalah tujuh tahun. Jadi, bisa dibayangkan kalau kita tidak melakukan atau tidak menemukan cadangan baru atau tidak melakukan akuisisi perusahaan aset migas yang memiliki cadangan yang besar, maka dalam tujuh tahun cadangan ini akan habis," ujar Nicke dalam Webinar, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Nicke mengakui tren produksi dari cadangan migas Pertamina mengalami penurunan. Namun dirinya bersama manajemen perseroan siap memasang target produksi minyak dari 420.000 barel per hari menuju angka 1 juta barel per hari pada 2026. Langkah ini untuk menggenjot tingkat produksi migas Pertamina.

Baca Juga: Ada Corona, Tantangan Industri Migas Kian Berat

Nicke menyebut, peningkatan produksi secara cepat hanya bisa dilakukan dengan melakukan akuisisi aset migas perusahaan lain.

"Kita punya aspirasi hari ini kalau produksi migas kita 420.000 barel per hari, maka aspirasi kita di tahun setelah 2028 atau malah target kita dipercepat 2026, ini akan meningkat 1 juta barel per hari. Bagaimana caranya? Tentu ini satunya dengan melakukan akuisis, ini cara cepatnya kalau kita ingin melakukan peningkatan produksi dan cadangan," kata dia.

Tak hanya itu, dalam melakukan transformasi bisnis, manajemen BUMN di sektor energi ini juga melakukan restrukturisasi keuangan. Nicke megutarakan, di sisi capital expenditure (Capex) atau belanja modal, pihaknya sudah memetakan kebutuhan operasional perusahaan dari tahun 2020, 2026, hingga 2030. Skema Capex ini didasari pada kondisi yang dihadapi dan tuntutan eksitensi perseroan ke depannya.

"Untuk melakukan transformasi bisnis ini juga diperlukan restrukturisasi dari sisi keuangan dengan tuntutan dari kapex, kita sudah petakan kebutuhan dari tahun 2020, 2026, sampai dengan 2030. Karena itu, kita kemudian menetapkan organisasi ini berdasafkan dengan tuntutan tadi," ujar dia.

Dalan pasar global, pertamina berupaya agar produksinya mampu menjadi salah satu produk yang berstandar internasional. Karena itu, perseroan plat merah ini juga anganakan mengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) standar Euro 2 dengan standar Euro 5 pada 2026, setelah proyek enam kilang yang sedang digarap beroperasi.

"Kita masi Euro 2, padahal sebagina besar tuntutan dunai adalah Euro 4 dan Euro 5, jadi ini kenapa kemudian harus kita bangun," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini