MNC Bank dan MNC Media Dorong Pengembangan Usaha Milenial

Hafid Fuad, Jurnalis · Kamis 22 Oktober 2020 19:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 22 320 2298007 mnc-bank-optimistis-kejar-pertumbuhan-kredit-produktif-sKQKHK8ybp.jpg MNC Bank (Foto: Hafid/Okezone)

JAKARTA - PT MNC Bank Tbk optimistis mendorong pertumbuhan kredit segmen produktif setidaknya mencapai 10% tahun ini. Meskipun masih berhati-hati namun perseroan meyakini saat ini perekonomian sudah kembali bergerak dan beberapa bisnis cukup potensial. Beberapa bisnis yang dinilai menjanjikan seperti bidang perdagangan, chemical, alat kesehatan, makanan, dan beberapa bisnis jasa.

Commercial Business Group Head MNC Bank Guritno mengatakan, pihaknya menyasar segmen usaha produktif generasi milenial dengan produk pinjaman modal kerja dan investasi. Plafon yang disiapkan bisa hingga Rp50 miliar. Selain itu menurutnya pengusaha milenial juga dapat menggunakan kartu kredit ataupun pinjaman multiguna untuk memulai bisnisnya.

Baca Juga: MNC Bank Serah Terima Bantuan kepada MNC Peduli untuk Warga Terdampak Covid-19

"Sekarang semakin terlihat bisnis seperti apa yang menjanjikan. Meskipun kami masih berhati-hati tapi harapannya tetap ada pertumbuhan kredit kisaran 5%-10% dibandingkan tahun lalu," ujar Guritno di MNC Financial Center di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Dia mengingatkan pelaku usaha Milenial sudah saatnya memahami harapan perbankan dan investor lain. Hal ini khususnya bila usaha yang dibangun semakin bertumbuh dan membutuhkan suntikan modal. "Misalnya di MNC Bank kami punya syarat bisnis yang minimal dua tahun berjalan dan mencatatkan profit. Ini penting supaya mudah dievaluasi sebelum diberikan pinjaman," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan pihaknya ingin terus mengedukasi kalangan milenial yang semakin akrab dengan kegiatan bisnis ataupun membangun startup. Salah satu yang sedang tren adalah bisnis kopi. Karena itu yang harus dipahami adalah pentingnya menjaga karakter yang positif. Lebih khusus dia mencontohkan ada beberapa hal yang harus dihindari misalnya komitmen membayar cicilan berapapun besarnya.

"Sekarang ada SLIK check jadi jangan sampai pinjaman kecil diremehkan. Karena berpengaruh pada penilaian karakternya. Jadi harus berhati-hati agar tidak menghambat karir profesional atau yang mau jadi enterpreneur. Selain track record juga diperiksa latar belakangnya lewat sesama pengusaha temannya. Termasuk yang suka ringan tangan juga berpengaruh," ujarnya.

Dalam edukasi dia menjelaskan pada tahap awal biasanya tidak mungkin pengusaha ke perbankan sehingga biasanya menggunakan modal sendiri atau keluarga. Misalnya untuk mulai membangun usaha rumahan. Berikutnya bila sudah berkembang bisa mencari investor. "Membangun usaha itu tidak mudah atau mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Sangat menantang. Karena itu awalnya bisnis harus mulai dari kegiatan yang disukai," ujarnya.

Menurutnya membangun usaha butuh latihan seperti pebalap motor atau atlet MMA. Setelah usaha berkembang lalu masuk kategori feasible atau menjanjikan berkembang. Tahap selanjutnya adalah bagaimana caranya menjadi bankable. "Karena bank akan melihat kondisi saat ini dan kedepannya seperti memilih jodoh. Harapannya bisnis yang bagus secara historikal naik. Kemudian diberikan pinjaman lalu mendorong penjualan dan untung bertambah dan bisnisnya berkembang. Begitu harapan perbankan," ujarnya.

Dia mengatakan, bank akan membiayai 70-80% dari modal demi adanya moral obligation atau supaya ada komitmen dari para debitur. Berikutnya bank juga melihat tren industri. Seperti saat ini bank cenderung menghindari sektor pariwisata di tengah pandemi. "Jadi bank akan mencari usaha yang mengandalkan penjualan dari sosmed dan online seperti makanan," ujarnya.

Selanjutnya perseroan juga mengatakan akan mengedukasi pelaku usaha milenial. Khususnya bagaimana sikap mereka diterima investor dan perbankan. Karena bagaimanapun mereka akan tetap akan butuh dukungan bank.

Sementara itu Art Director MNCTV Baskoro Aji memberikan saran kepada pelaku usaha Milenial bagaimana membuat produk yang menarik. Langkah awal menurutnya dengan melihat kompetitor penjual produk yang sama dan waktu yang sama. Menurutnya ada beberapa tips praktis sebelum melakukan inovasi skala besar untuk mengembangkan bisnisnya. "Misalnya inovasi produk yang sama seperti munculnya ayam geprek. Dari sekedar jualan ayam tapi akhirnya banyak juga restoran yang ikut menjual ayam geprek. Ini artinya meskipun produk sama tapi sampaikan dengan kemasan yang baik karena akan ada respon yang berbeda dari konsumen," ujar Baskoro dalam kesempatan sama.

Menurutnya konsumen rela mengeluarkan uang lebih besar demi pengalaman baru dibandingkan yang biasanya. Seperti ayam tepung pinggir jalan dengan bungkus kertas biasa. Otomatis harganya murah dibandingkan brand besar. "Namun harga lebih mahal bisa tetap laris karena ada pengalaman beda. Jadi bagaimana mengemas produk. Ini lebih praktis sebelum melakukan inovasi berat lainnya," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini