Ramai Seruan Boikot, Cek Lagi Ini Daftar Produk Prancis di Indonesia

Hafid Fuad, Jurnalis · Selasa 03 November 2020 21:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 320 2303682 ramai-seruan-boikot-cek-lagi-ini-daftar-produk-prancis-di-indonesia-58IAG5J1aI.jpg Produk Prancis (Foto: Okezone/Giri)

JAKARTA - Seruan boikot produk merek asal Prancis mengancam penjualan beragam produk. Mungkin banyak yang tidak mengetahui ragam brand asal Prancis tersebar mulai dari produk kecantikan hingga otomotif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari-Juli 2020 Indonesia telah mengimpor barang dari Prancis senilai USD682 juta. Angka ini turun jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Adapun produk Prancis di Indonesia antara lain:

-Produk fashion dengan berbagai brand asal Prancis yang pasti dikenal wanita dan pria seperti; Channel, Hermès, Louis Vuitton, Yves Saint Laurent, Lacoste, dan Pierre Cardin. Sementara brand kosmetiknya sudah pasti juga banyak dikenal seperti; L'Oreal, dan Garnier.

Berikutnya adalah brand produk makanan dan minuman yang sangat akrab di tengah keluarga Indonesia seperti; Danone, dan Kraft.

Tidak ketinggalan brand otomotif dan energi yaitu; Renault, Peugeot, Michelin, Total, dan Elf.

Bagi WNI yang suka pelesir pasti akrab dengan brand penginapan seperti jaringan hotel Accor yang memiliki brand Ibis, Fairmont, Pullman, Novotel, Raffles, hingga Mercure.

Brand asal Prancis tersebut pantas khawatir karena di tengah krisis akibat pandemi covid-19 dan sekarang harus menghadapi pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengeluarkan surat imbauan untuk memboikot produk Prancis. Surat tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum Muhyiddin Junaidi, tertanggal 30 Oktober 2020.

"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis (Produk Prancis) serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia," bunyi surat imbauan tersebut.

 

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira mengingatkan untuk produk produk yang langsung didatangkan dari Prancis lebih pas jika yang boikot adalah masyarakat kelas menengah atas. Rata-rata produk Prancis menurutnya dalam kategori high-end market atau barang-barang mewah.

"Kalau crazy rich, artis, atau pejabat yang boikot produk Prancis baru dampaknya sangat terasa. Dulu saat normal juga ramai fenomena beli barang mewah lewat jasa titipan, tapi sekarang pelaku Jastip tidak bisa keluar negeri karena covid-19. Ibaratnya barang Prancis sudah jatuh tertimpa tangga," ujar Bhima, Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Sementara itu barang-barang milik perusahaan Prancis yang diproduksi di Indonesia sepertinya butuh seruan yang lebih masif agar efek boikotnya lebih terasa. Karena produk seperti makanan minuman juga dikonsumsi kelas bawah setiap hari.

"Ini tidak semudah itu untuk diboikot. Susu SGM, berapa juta bayi yang minum susu formula ini? Aqua juga sudah jadi air minum dalam kemasan yang dikonsumsi banyak rumah tangga. Kecuali boikotnya bersumber langsung dari Pemerintah misalnya, keluarkan aturan stop distribusi semua produk Prancis itu baru efeknya langsung merugikan Prancis," ujarnya.

Sementara pengamat ekonomi dari INDEF Nailul Huda menilai perdagangan Indonesia-Perancis sebenarnya tidak terlalu signifikan. Namun ada merek produk Perancis yang memang sudah jadi konsumsi sehari masyarakat Indonesia.

"Khusus untuk produk yang sudah melekat di masyarakat Indonesia, saya rasa susah untuk diboikot, misalnya merek Aqua," ujar Huda.

Sementara merek dengan segmen kelas atas, seperti LV atau Dior diyakininya tidak akan terpengaruh. Karena isu boikot bukan menjadi perhatian pangsa pasar LV dan Dior tersebut.

"Saya rasa isu boikot-boikot ini tidak akan berlangsung lama. Hanya sesaat saja," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini