Resesi dan Daya Beli Lesu, Peritel: Jangan Ditambah Boikot Produk

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 05 November 2020 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 05 320 2304449 resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk-NMMygkfIux.jpg Minimarket (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Belakangan ini jagad dunia media sosial kian ramai menyerukan pemboikotan pembelian barang asal Prancis. Hal tersebut menyusul adanya pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menghina umat Islam.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel seluruh Indonesia (APRINDO) Roy N Mandey mengaku khawatir bila gerakan itu kian masif, karena akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Tanah Air. Pasalnya, banyak produk asal Prancis itu termasuk ke sektor ritel.

Baca Juga: Produk Prancis Diboikot, 4,5 Juta Pekerja di Sektor Ritel Terancam

"Ya, saat ini memang belum memengaruhi, tapi mestinya jangan diperbesar, sehingga kalau jadi besar, maka akan memengaruhi," kata Roy kepada Okezone, Kamis (5/11/2020).

Apabila salah satu produk ritel ada yang diboikot, maka nantinya akan memengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga. Padahal, kini akibat pandemi Covid-19, nilainya pun sudah minus.

"Sekarang saatnya lagi pandemi, ketika konsumsi kita rendah dan bahkan masih minus, jangan ditambah dengan hal-hal seperti ini," ujarnya.

 

Menurut dia, bila angka konsumsi rumah tangga masih terkontraksi, maka bisa dipastikan perekonomian akan terus berada pada posisi minus. Sebab, sektor itu merupakan penyumbang terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Kalau ini diboikot, akhirnya masyarakat tidak bisa membeli produk yang mereka butuh akan memengaruhi nilai konsumsi, ujungnya memengaruhi kesejahteraan masyarakat," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini