Ekonomi Masih Minus, Bagaimana di Kuartal IV-2020?

Ferdi Rantung, Jurnalis · Kamis 05 November 2020 15:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 05 320 2304733 ekonomi-masih-minus-bagaimana-di-kuartal-iv-2020-0v2qkOhrBG.jpg Ekonomi Proyeksi (Shutterstock)

JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat masih akan negatif. Kalkulasinya, pertumbuhan ekonomi bakal minus 3,5%.

Sebagai informasi,Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga sebesar minus 3,49%.

 Baca juga: RI Resesi, Sri Mulyani Kecewa Orang Kaya Setengah-Setengah Buang Duit

"Pertumbuhan kuartal ke-IV 2020 diperkirakan masih negatif -1,5% sd -3,5% yoy. Sementara pertumbuhan full 2020 dikisaran -2% sd -3,5%," kata Bhima saat dihubungi MNC Portal News, Jakarta, Kamis (5/11/2020)

Saat ini, laju pertumbuhan industri manufaktur belum ada perbaikan yang signifikan yakni bertahan di level negatif menjadi -4,3%. Indikasi sektor manufaktur masih alami tekanan yang cukup dalam seiring belum pulihnya permintaan di dalam dan pasar ekspor.

 Baca juga: Indonesia Resesi, BI Disarankan Beli Obligasi Corporate

Lalu, sektor informasi dan komunikasi jadi lead sector yang pertumbuhannya tinggi yakni 10,5% didorong oleh perubahan prilaku konsumen selama masa pandemi. Pemakaian data yang meningkat seiring kantor yang melakukan WFH dan sekolah dengan belajar online (PJJ) ikut mendorong permintaan jasa infokom.

Serta, sektor kesehatan meningkat hingga 15,3% justru menunjukkan kondisi pandemi masih gawat sehingga belanja kesehatan masyarakat naik tajam. Ini bukan sinyal positif bagi ekonomi.

"Sektor transportasi dan pergudangan sedikit membaik tapi masih negatif -16,7%. Artinya, mobilitas masyarakat untuk bepergian masih cukup rendah. Sementara itu pada kuartal ke IV nanti ada peak season yakni Libur Natal dan Tahun Baru. Jika sektor transportasi masih rendah artinya libur panjang belum mampu meningkatkan belanja di sektor retail dan pariwisata," tandasnya.

Sementara itu, sektor pariwisata belum pulih. Hal ini ditunjukkan dari pertumbuhan penyediaan akomodasi dan makan minum masih alami kontraksi -11,85%. Sektor pariwisata diperediksi menjadi sektor paling akhir yang mengalami recovery.

"Apakah 2021 atau 2022 masih belum dapat dipastikan," tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini