Indonesia Resesi: Rasa Takut, Cemas hingga Doa Masyarakat

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 05 November 2020 15:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 05 320 2304746 indonesia-resesi-rasa-takut-cemas-hingga-doa-masyarakat-z2EVxk9zwe.jpg Indonesia Resesi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia resmi masuk jurang resesi pada kuartal III-2020 setelah pertumbuhan ekonominya minus 3,49% akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Resesi terjadi jika pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Tercatat, pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia minus 5.32%.

Dampak yang ditimbulkan akibat resesi adalah ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena banyak perusahaan yang bangkrut. Ujungnya adalah pengangguran dan kemiskinan meningkat.

Kendati demikian, pemerintah mengklaim meski ekonomi Indonesia minus 3,49% dan masuk jurang resesi, ekonomi kuartal III mulai bergerak ke arah positif.

Baca Juga: Banyak Perusahaan yang Bangkrut Ketika Indonesia Resesi

Lalu apa kata masyarakat soal resesi? Berikut rangkumannya saat diwawancarai Okezone, Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Masyarakat bernama Bella mengaku khawatir Indonesia resesi. Sebab dirinya baru pertama kali merasakan dan mendengar istilah resesi.

"Aduh panik banget dengernya, harus siap-siap narik uang tabungan aku. Takut soalnya kalau makin krisis gimana dong," kata Bella yang juga merupakan karyawan swasta kepada Okezone.

Baca Juga: Indonesia Resesi, Sri Mulyani: Juni Terburuk, Sekarang Sudah Titik Balik

Tak jauh berbeda dengan Bella, pekerja bernama Anto juga takut dengan adanya resesi. Sebab, ancaman resesi adalah PHK. Anto yang sudah mempunyai dua anak ini mengaku khawatir jika tiba-tiba kena PHK.

"Resesi petama kali dalam hidup. Khawatir banget, takut sama kerjaan yang tiba-tiba harus berhenti karena produktivitas usaha pasti berkurang. Apalagi lihat teman-teman sudah di PHK mendadak dan tutup kantornya. Berharap supaya kondisi ekonomi bisa pulih, dan hati jadi tenang," katanya.

Sementara itu, pekerja lainnya berharap pandemi virus corona segera berakhir dan ekonomi Indonesia kembali pulih. "Semoga resesi yang baru saya rasakan dalam hidup ini tak membuat saya terkena PHK. Covid-19 cepat mereda dan kehidupan kembali normal," kata Yoga yang merupakan karyawan swasta ini.

 

Seorang pekerja yang juga aktif di Youtube, Tomo merasakan ketakutan yang sama akan resesi ini. Walaupun mendapatkan BLT subsidi gaji Rp1,2 juta, hal ini kurang untuk memenuhi kebutuhan saat resesi.

"Waduh dengernya shock banget sekaligus bingung. Shock karena lagi kondisi sulit akibat pandemi ditambah ekonomi resesi. Dan bingung harus ngapain karena ini pertama kalinya merasakan langsung. Paling untuk sementara waktu aku mau nahan belanja-belanja baju, sepatu dan aksesoris yang enggak penting dulu," katanya.

Fajar, pekerja swasta lainnya juga khawatir resesi Indonesia yang terjadi saat ini terulang saat krisis moneter 1998. Perantau asal Indramayu takut kena PHK.

"Awal dengar Indonesia resesi ada perasaan khawatir kejadian seperti 1998. Apalagi kondisi sedang seperti ini, banyak pekerja dirumahkan bahkan PHK, semoga pemerintah bisa cepat mengatasi situasi ini," katanya.

Pekerja lainnya Ari berharap resesi segera berakhir. Sebab dirinya menilai ada perbaikan ekonomi Indonesia meski mengalami resesi. "Resesi sih, tapi alhamdulillah membaik. krisisnya juga tak berasa untuk saya," tukas pria yang kerap dipanggil uban.

Seperti yang diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan Indonesia telah melalui titik balik dari resesi ekonomi yang terjadi di kuartal II-2020 dan kuartal III-2020. Pernyataan itu didasari oleh data ekonomi yang menunjukkan adanya pertumbuhan pada sejumlah sektor.

"Kita sudah melalui titik balik atau turning point. Telah kita lewati masa terburuk di kuartal II-2020. Sekarang tren perbaikan," kata Sri Mulyani, dalam konferensi pres secara virtual terkait Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2020, Kamis (5/11/2020).

Saat ini, lanjut Sri Mulyani, fokus pemerintah akan fokus perhatian pada akselerasi tren pemulihan dan pertumbuhan ekonomi ke zona positif.

"Situasi terburuk adalah kuartal II mulai Juni. Sekarang trennya perbaikan," tegasnya lagi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus 3,49% secara year on year dibandingkan dengan periode yang sama 2019.

"Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2020 year on year dibandingkan triwulan III-2019 mengalami kontraksi 3,49%," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/11/2020).

Jika dibandingkan dengan kuartal II-2020 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami pertumbuhan 5,05%, sehingga kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I hingga kuartal III masih alami kontraksi 2,03%,

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini