Ekonomi China dan Jepang Cepat Pulih, Eropa-AS Tertekan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 17 November 2020 17:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 17 320 2311181 ekonomi-china-dan-jepang-cepat-pulih-eropa-as-tertekan-TXfPatPUEa.jpeg Krisis Ekonomi (Foto: Freepik)

JAKARTA Perekonomian negara di daratan Asia perlahan ke luar dari krisis berkepanjangan akibat adanya pandemi Covid-19. Salah satu contohnya seperti Jepang yang melaporkan bahwa ekonominya tumbuh 5% pada kuartal III-2020 dan memungkinkannya untuk keluar dari zona resesi.

Hal Itu menandakan tingkat ekspansi tahunan sebesar 21,4%, yang mana tercatat sebagai yang tercepat dalam catatan ekonomi terbesar ketiga di dunia. Beberapa jam setelah pengumuman Jepang, China merilis data yang menunjukkan bahwa pemulihannya juga terus meningkat.

Baca Juga: Covid-19 Buat Semua Negara Reset Perekonomian

Produksi industri di ekonomi terbesar kedua dunia itu naik hampir 7% bulan lalu, mengalahkan perkiraan dari ekonom yang disurvei oleh Refinitiv. Penjualan ritel naik sedikit lebih dari 4% - laju tercepat tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi yang positif di benua Asia, justru berbeda sekali dengan yang ada di daratan Eropa dan Amerika. Di mana di sana masih bergulat dengan peningkatan kasus Covid-19 yang masih belum mampu diredam.

 

"Sebagian besar karena pengendalian virus secara signifikan lebih baik, sebagian besar ekonomi Asia berkinerja lebih baik daripada rekan-rekan Barat mereka," kata Head of Asia Economics at Oxford Economics Louis Kuijs seperti dilansir dari CNN, Selasa (17/11/2020).

Dia memperkirakan sebagian besar ekonomi utama Eropa menyusut pada kuartal ini karena pembatasan baru terkait Covid. Amerika Serikat mungkin juga mencatat pukulan keras pada pertumbuhannya, bahkan jika pemerintah di sana tidak memberikan stimulus pada perekonomian mereka.

Kujis optimis meskipun kelemahan di Amerika Serikat dan Eropa akan membebani perdagangan dan investasi di Asia, tapi itu tak akan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap ekonomi di negara Asia.

"Jika ekonomi Asia dapat terus menghindari lockdown baru yang besar, dampak dari pelemahan di Eropa dan AS hanya akan memperlunak kelanjutan pemulihan di Asia, bukan membatalkannya," katanya.

Tantangan saat ini di Asia adalah bagaimana menjaga momentum, mengingat perlambatan pertumbuhan di antara mitra dagang utama.

"Lockdown di Eropa dan perlambatan baru di AS ... menimbulkan risiko bahwa pemulihan ekspor Asia bisa mengambil jeda," kata Co-Head of Asian Economic Research and Managing Director at HSB Frederic Neumann dalam kesempatan yang sama.

Dia menilai bahwa ekonomi Asia bergantung pada perdagangan global, dan permintaan yang lambat dari Barat dapat menghambat pemulihan.

"Asia sendiri tidak dapat menarik ekonomi global keluar dari keterpurukannya," ujarnya.

Pemerintah China pada hari Senin mengakui risiko yang ditimbulkan oleh berlanjutnya pandemi di tempat lain. Juru Bicara Biro Statistik Nasional China, Fu Linghui mengatakan bahwa wabah di Eropa dan Amerika Serikat telah menciptakan ketidakpastian bagi ekspor China. Namun, itu total nilai perdagangan China telah meningkat tahun ini, berlawanan dengan tren global.

Terlepas dari keadaan pandemi, negara-negara di kawasan itu juga berusaha untuk memperkuat hubungan satu sama lain, tanpa bantuan dari seluruh dunia. Akhir pekan ini, China, Jepang, dan lebih dari selusin negara lain di Asia Pasifik menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional, sebuah perjanjian perdagangan besar yang telah dibuat hampir satu dekade.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini