China Beli Batu Bara Jadi 'Obat Kuat' Rupiah

Dian Ayu Anggraini, Jurnalis · Jum'at 27 November 2020 12:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 320 2317262 china-beli-batu-bara-jadi-obat-kuat-rupiah-5grER98GBl.jpg China Mau Beli Batu Bara Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA- Penguatan nilai tukar Rupiah pada hari ini akan dipengaruhi sentimen China yang akan membeli batu bara termal Indonesia pada 2021 dengan harga yang menarik. Hal ini ikut mendorong investor untuk memborong saham batu bara.

Selain itu, prospek pemulihan harga komoditas bisa rally positif hingga awal 2021. Faktor kenaikan anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) 4,1% tahun depan menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi di daerah.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp14.105 per USD

Di sisi lain, Rupiah juga dipengaruhi keputusan para pembuat kebijakan Federal Reserve membicarakan berbagai opsi pembelian aset untuk membantu pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). Adapun dua opsi yang paling populer antara lain meningkatkan laju pembelian atau mengalihkan fokus ke obligasi dengan masa jatuh tempo yang lebih panjang.

Untuk saat ini, Bank Sentral AS masih akan melakukan pembelian aset secara autopilot. Wacana kebijakan yang disebutkan dalam notulen kemungkinan akan dipetakan lebih rinci dalam rapat berikutnya.

"Beberapa peserta rapat menilai bahwa komite sebaiknya melakukan penyesuaian laju pembelian aset secepatnya," kata notulen FOMC, dikurit dari riset Treasury MNC Bank, Jumat (27/11/2020).

Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Parkir di Level Rp14.144/USD

Kendati demikian, sebagian besar anggota rapat FOMC tampaknya ingin menghindari fenomena "taper tantrum" yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itulah, perbaruan kebijakan pembelian obligasi The Fed dinilai sangat diperlukan di masa depan.

Kebijakan The Fed untuk mempertahankan moneter longgar muncul setelah data terbaru menunjukkan kenaikan berulang kali dalam klaim pengangguran mingguan untuk pertama kalinya sejak Juli. Akan tetapi, sinyal kelemahan di pasar tenaga kerja dan dampak Covid-19 pada perekonomian tampaknya tidak akan menambah daya tarik Dolar AS.

Pasalnya, optimisme terhadap proses vaksin masih sangat besar dan akan bertahan sebagai katalis pasar dalam beberapa waktu ke depan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini