Dolar AS Loyo Tak Kuat Menahan Keperkasaan Ekonomi China

Sabtu 28 November 2020 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 28 320 2317772 dolar-as-loyo-tak-kuat-menahan-keperkasaan-ekonomi-china-mJ5Ut2KD5D.jpg Dolar AS (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Dolar AS jatuh mencapai level terendah hampir tiga bulan pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah data ekonomi yang kuat dari China mendorong investor menuju mata uang berisiko dan pasar ekuitas memperpanjang reli mereka.

Dolar AS telah jatuh lebih dari 2% terhadap sekeranjang mata uang lainnya sepanjang bulan ini, setelah kemenangan pemilihan Presiden Demokrat AS Joe Biden dan kemajuan positif vaksin COVID-19, mengurangi permintaan akan tempat berlindung yang aman.

Dolar Selandia Baru mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, sementara dolar Australia mencapai level September setelah data menunjukkan laba Oktober di perusahaan-perusahaan industri China tumbuh pada laju tercepat sejak awal 2017.

Pound Inggris turun terhadap euro karena Uni Eropa dan Inggris mengatakan perbedaan substansial tetap ada selama kesepakatan perdagangan Brexit ketika kepala negosiator UE bersiap untuk melakukan perjalanan ke London dalam upaya terakhir menghindari akhir yang penuh gejolak dari krisis Brexit lima tahun.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Investor Cari Aset Berisiko terkait Komoditas 

Bersama dengan data dan berita utama Brexit, Erik Bregar, kepala strategi valas di Exchange Bank of Canada di Toronto, mengaitkan penjualan dolar AS akhir bulan karena investor menyeimbangkan portofolio setelah keuntungan bulanan yang solid untuk ekuitas.

"Ada pembicaraan sepanjang minggu bahwa dolar AS akan mengalami gelombang penjualan memasuki Senin (30/11/2020)," kata Bregar seperti dilansir Antara, Jakarta, Sabtu (28/11/2020).

Tetapi dengan banyak pedagang AS yang masih berlibur sehari setelah libur Thanksgiving pada Kamis (26/11/2020), Bipan Rai, kepala Strategi Valas Amerika Utara di CIBC Capital Markets, mengatakan volume perdagangan yang lebih tipis kemungkinan melebih-lebihkan pergerakan dolar.

"Ini dimulai dengan data keuntungan industri yang mengesankan di China dan itu diterjemahkan ke dalam latar belakang yang sangat tidak merata untuk likuiditas di zona waktu Amerika Utara," kata Rai.

Namun, “dalam jangka panjang ini mungkin tren yang tepat untuk dolar. Kami pikir dolar memiliki ruang lebih lanjut untuk sisi penurunannya,” tambahnya.

 Rupiah Menguat 40 Poin dari Dolar AS di Tengah Ancaman Korona

Indeks Wall Street naik, dengan Nasdaq ditutup pada rekor tertinggi, dalam sesi diperpendek pada Jumat (27/11/2020), saat pengecer memulai musim belanja akhir tahun dan rawat inap COVID-19 mencapai rekor.

Dolar terakhir turun 0,24% terhadap sekeranjang mata uang utama setelah mencapai 91,756, terendah sejak 1 September, tetapi tidak sempat mencapai terendah September di 91,737, yang terakhir dicapai pada April 2018.

Dolar Australia - dilihat sebagai proxy untuk risiko bersama dengan mata uang komoditas lainnya seperti Kiwi dan dolar Kanada - menguat 0,41%

Dolar AS terakhir turun 0,23% terhadap dolar Kanada, sementara Kiwi naik 0,21% terhadap greenback. Sterling turun 0,45% terhadap dolar dan euro naik 0,78% terhadap mata uang Inggris.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini