Grab-Gojek Merger Dinilai Imbas Merugi saat Covid-19

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 05 Desember 2020 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 05 320 2322254 grab-gojek-merger-dinilai-imbas-merugi-saat-covid-19-yz16eRlnOs.jpg Ojek Online (Okezone)

JAKARTA - Dua raksasa aplikasi transportasi berbasis daring atau Ojek Online, yaitu Grab dan Gojek dikabarkan bakal melakukan penggabungan atau merger. Rencana itu dinilai sebagai langkah penghematan karena keuntungan mereka sedang anjlok akibat pandemi Covid-19.

Pengamat Transportasi dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai rencana itu karena Grab dan Gojek terkena dampak karena adanya pandemi virus corona. Karena, kini banyak orang yang berdiam diri di rumah, sehingga otomatis pemasukan para mitranya pun mengalami penurunan.

 Baca juga: Tak Sejahtera, Driver Ojol Tolak Merger Grab-Gojek

"Merger terjadi, bisa jadi karena pemesan atau konsumen sudah berkurang. Apalagi di masa pandemi yang sangat menurun drastis," kata Djoko kepada Okezone, Sabtu (5/12/2020).

Dia mengaku pernah melakukan survei kepada mitra dari Grab dan Gojek. Dimulai dari ojek online hingga taksi daring, mereka menyatakan bahwa pemasukannya berkurang sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19.

 Baca juga: Merger Grab-Gojek, Waspada Monopoli Ojek Online!

"Beberapa komunitas roda 2 yang saya temui, terjadi pengurangan driver ojol. Sebesar 50% kembali ke profesi semula. Untuk roda empat, komunikasi dengan beberapa komunitas roda 4, terjadi pengembalian kendaraan ke leasing sekitar 30%," ujarnya.

Dia menyebut apabila nanti rencana merger tersebut benar terwujudkan, maka dampak positif yang diterima para mitra pun akan amat kecil.

"Tidak banyak memberikan nilai positif pada mitra driver," kata dia.

Sebelumnya, dari pihak Grab enggan berkomentar mengenai hal tersebut. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Public Relations Manager Grab Indonesia Dewi Nuraini.

“Kami tidak berkomentar mengenai spekulasi yang berada di pasar,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Jumat (4/12/2020).

Sementara itu, Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita mengaku enggan menanggapi rumor yang beredar di publik. Namun Nila menyebut jika fundamental bisnis perusahaan semakin kuat.

“Kami tidak dapat menanggapi rumor yang beredar di pasar. Yang dapat kami sampaikan adalah fundamental bisnis Gojek semakin kuat termasuk di masa pandemi,” ujarnya kepada Okezone.

Menurut Nila, beberapa layanan dari Gijek berhasil mencatatkan kontribusi margin yang cukup positif. Oleh karena itu, perusahaan berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada para pengguna dan mitra.

“Beberapa layanan kami bahkan telah mencatatkan kontribusi margin positif. Kami terus memprioritaskan pertumbuhan yang berkelanjutan untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna dan mitra kami diseluruh tempat kami beroperasi,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini