Ada Covid-19, Industri Migas Dituntut Hemat

Taufik Fajar, Jurnalis · Minggu 06 Desember 2020 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 06 320 2322647 ada-covid-19-industri-migas-dituntut-hemat-ovNoAe9Z9T.jpg Industri Migas Dituntut Hemat. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Industri hulu migas harus melakukan optimasi biaya supaya bisa bertahan menghadapi situasi global dengan harga minyak rendah dan pandemi Covid-19 yang menyebabkan biaya meningkat. Efisiensi biaya harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan agar menghasilkan hasil optimal.

Kepala Divisi Perencanaan Anggaran SKK Migas Dyah Anjarwati mengatakan, optimasi biaya menjadi tanggung jawab SKK Migas karena biaya operasi turut berdampak pada pencapaian pendapatan pemerintah dari sektor hulu migas. Sejak 2017, optimasi biaya menjadi prioritas sebagai bentuk dari lesson learned pasca penurunan harga minyak secara drastis pada tahun 2015-2016. Di 2019, program optimasi menjadi bagian rencana strategis SKK Migas. Hasilnya pada 2019, terdapat penghematan biaya hingga UD2 miliar.

Baca Juga: RUU Migas Diperlukan saat Persaingan Industri Semakin Meningkat

“Di sisi lain, untuk menjaga tingkat produksi, SKK Migas mendorong anggaran yang berdampak pada peningkatan produksi hingga USD300 juta pada 2019,” katanya, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/12/2020).

SKK Migas berkomitmen melakukan peningkatan berkelanjutan dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih mengeksplorasi berbagai potensi optimasi biaya.

“Dukungan dari penyedia teknologi juga diharapkan agar kegiatan eksplorasi lebih akurat, penemuan lebih cepat, serta produktivitas sumur dan keekonomian lapangan meningkat,” kata Dyah.

Baca Juga: Berburu Cadangan Migas demi Target 1 Juta Barel

Sementara itu, General Manager Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Agus Amperianto mengungkapkan, Blok Mahakam dapat menjadi contoh penerapan optimasi biaya di lapangan migas di Indonesia. Dengan lapangan mature yang telah berproduksi lebih dari 45 tahun membuat biaya produksi PHM cenderung meningkat.

“Kami dituntut untuk efisien agar operasi dapat berkelanjutan,” katanya.

Tahun 2018, belanja operasional (operating expenditure/Opex) PHM mencapai USD1,115 miliar. Angka ini meningkat pada tahun 2019 menjadi USD1,144 miliar.

“Opex meningkat sementara produksi menurun,” katanya.

Dampaknya, biaya per barel naik dari USD17,9 per barel pada 2018, menjadi USD22,9 per barel. Tahun 2020 ini, PHM melakukan optimasi biaya hingga 34%. Opex diproyeksikan sebesar USD750 juta.

Biaya per barel pun turun menjadi USD17,9 per barel. Optimasi biaya ini diperoleh dari optimasi pengeboran, konstruksi, asuransi fasilitas dan sumur, rantai suplai, hingga digitalisasi. “Hal ini dicapai tanpa mengorbankan integritas operasi,” kata Agus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini