Share

Kenaikan Cukai Rokok 12,5% Tidak Wajar, Pengusaha Geleng-Geleng

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 10 Desember 2020 16:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 10 320 2325324 kenaikan-cukai-rokok-12-5-tidak-wajar-pengusaha-geleng-geleng-czy3rwEWKD.jpg Cukai Rokok Naik 12,5%. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok (Gappri) menilai keputusan pemerintah menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) 2021 di masa pandemi Covid-19 tidak wajar. Di mana angka kenaikan tarif rata-rata tertimbang 12,5% adalah sangat tinggi.

Kenaikan masing-masing layer berkisar antara 13,8% sampai dengan 18,4%.

“Tidak wajar sebab kinerja industri sedang turun akibat pelemahan daya beli karena ada pandemi dan kenaikan cukai sangat tinggi di tahun 2020 kemarin. Apalagi saat ini angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih minus,” kata Ketua Umum Gappri Henry kepada Okezone, Kamis (10/12/2020).

Baca Juga: Tarif Cukai Rokok Naik 12,5%, Bagaimana Kesejahteraan Petani Tembakau?

Dia membandingkan kenaikan cukai saat ini dengan kondisi normal. Di mana tahun-tahun lalu dalam posisi angka pertumbuhan ekonomi 5% dan inflasi 3% kenaikan cukai rata-rata 10% sudah berdampak pada penurunan produksi IHT sekitar 1%.

Kenaikan cukai yang sangat tinggi di tahun 2021 diperkirakan akan berdampak pada semakin maraknya rokok ilegal, kematian industri menengah-kecil, serta serapan bahan baku.

Baca Juga: Cukai Rokok Naik 12,5%, Netizen: Sabar-Sabar Wahai Kaum Sebat

“Kenaikan cukai yang tinggi ini menyebabkan gap harga antara rokok ilegal dengan legal semakin jauh.Bertambahnya jumlah penindakan rokok ilegal dapat diartikan semakin maraknya rokok ilegal, bahkan terus meningkat akibat gap yang semakin tinggi,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa industri belum mampu menyesuaikan dengan harga jual maksimal akibat kenaikan cukai tahun 2020 sebesar 23% dan Harga Jual Eceran (HJE) 35%. Harga rokok yang ideal yang harus dibayarkan konsumen pada tahun ini seharusnya naik 20%, tetapi baru mencapai sekitar 13% .

“Artinya masih ada 7% untuk mencapai dampak kenaikan tarif 2020,” kata dia.

Dia mengaku keberatan dengan kenaikan tarif cukai 2021 yang sangat tinggi tersebut. Meski keberatan, industri hasil tembakau menghormati keputusan pemerintah dan akan menaati kebijakan yang telah dibuat.

“Perkumpulan GAPPRI dalam kebijakan cukai 2021 mengapresiasi kebijakan tidak adanya kenaikan cukai pada jenis rokok Sigaret Kretek tangan (SKT). Di masa pandemi relaksasi lebih dibutuhkan oleh industri sebagaimana diberlakukan pada jenis SKT, dibanding beban kenaikan tarif cukai yang dibebankan pada jenis SKM dan SPM,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini